Suara.com - Duh, Pengguna Rokok Elektronik Lebih Berisiko Alami Depresi
Jika banyak orang percaya rokok elektronik atau vaping ampuh untuk bisa berhenti dari rokok konvensional. Tapi berbeda dengan sebuah studi yang mengatakan rokok elektronik berisiko dua kali lipat menyebabkan depresi.
Diwartakan Medical New Today, Rabu (18/12/2019) peluang risiko ini terjadi pada kaum muda. Mengingat beberapa ahli mengatakan rokok elektronik jadi epidemi dan banyak digunakan kaum muda. Penelitian ini diterbitkan dalam JAMA Network Open yang menemukan hubungan signifikan antara vaping dan depresi.
Penelitian dilakukan dengan melihat sebanyak 900.000 sampel orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun sejak 2016 hingga 2017, pengumpulan dilakukan dengan sistem faktor risiko perilaku (BRFSS). BRFSS adalah survei nasional dengan cara telepon terbesar di AS.
"Para peneliti menemukan bahwa 34 persen dari pengguna rokok elektronik saat ini melaporkan mengalami depresi, dibandingkan dengan 15 persen dari mereka yang tidak pernah memakai vaping. Juga 27 persen dari mantan pengguna lebih mungkin melaporkan depresi, dibandingkan dengan 15 persen pada mereka yang tidak pernah menggunakan e-rokok," jelas peneliti utama Dr. Olufunmilayo Obisesan, John Hopkins University di Baltimore, MD.
Dalam penelitian ini juga ditemukan adanya hubungan yang kuat antara rokok elektronik dan depresi, apalagi bagi mereka yang tengah mencari informasi tentang produk ini. Jadi bisa sebagai catatan penting dokter dalam memberikan konseling kepada pasiennya.
"Secara klinis, penelitian kami memberikan informasi bisa jadi bahan pertimbangan dokter ketika memberi konseling pada pasien yang mencari informasi tentang rokok elektronik, terutama mereka yang mengalami depresi," jelas Dr. Obisesan.
Alasan kaum muda disoroti dalam penggunaan rokok elektronik, karena mereka cenderung bereksperimen dengan produk-produk rokok elektronok. Perusahaan vaping juga biasanya menargetkan demografi ini dalam melakukan penjualannya.
"Ini menyoroti potensi kerentanan pengguna rokok elektronik dalam kelompok ini mengalami depresi dalam kehidupan mereka. Penelitian ini juga dilakukan untuk menentukan apa yang harus dilakukan saat anak-anak kita kecanduan nikotin, karena mereka menggunakan dengan porsi yang banyak," ujar Dr. Mariell Jessup dari American Heart Association (AHA), Tobacco Center of Regulatory Science.
Baca Juga: Kesalahan Informasi Tentang Vape Membuat Perokok Kembali ke Tembakau
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Rupiah Melemah ke Rp16.786, Tertekan Sentimen Negatif Pasar Saham
-
Jokowi Angkat Bicara Soal Dugaan Korupsi Mantan Menag Yaqut: Saya Tidak Pernah Perintahkan Korupsi!
-
Siapa yang Meminta Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI?
-
Skandal Sepak Bola China: Eks Everton dan 72 Pemain Dijatuhi Sanksi Seumur Hidup
-
Iman Rachman Mundur, Penggantinya Sedang Dalam Proses Persetujuan OJK
Terkini
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital
-
Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink