Suara.com - Warga Natuna Tolak Karantina WNI dari Wuhan, Apa Tanggapan Kemenkes?
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menanggapi ramainya penolakan warga Kabupaten Natuna, Kepri, terhadap proses observasi dan monitoring ratusan WNI yang baru pulang dari Wuhan, China.
Proses observasi kesehatan para WNI dari Wuhan, China, rencananya akan dilakukan selama 14 hari dan dilakukan di sebuah tempat 'terpencil' di salah satu pulau paling luar di Indonesia tersebut.
"Warga menolak karena tidak mengerti. Oleh karena itu kita memiliki kewajiban untuk membuat mereka menjadi mengerti," kata Sesditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, dr. Achmad Yurianto kepada Suara.com melalui sambungan telepon, Minggu, (2/2/2020).
Kata dr. Achmad, tempat observasi dengan komunitas warga setempat terpaut jarak sejauh 8 km. Ia juga memastikan bahwa proses penularan virus corona Wuhan terjadi karena droplets atau percikan, bukan partikel yang dibawa udara.
"Kita tahu bahwa penyakit ini menularnya melalui droplets atau percikan ludah, percikan ingus yang keluar saat bersin dari orang yang sakit. Pertanyaannya, mungkin kah orang kalau batuk bersin ludahnya mercik sampai 10 km? Virus ini juga tidak berterbangan seperti debu," kata dr. Achmad lagi.
Sebelumnya, Kementerian Kesehataan RI juga telah memastikan 238 WNI yang baru dievakuasi dari Wuhan, China masih, dalam keadaan sehat dan lolos skrining untuk bisa kembali ke negara asal.
Total ada 9 dokter dengan 6 dokter spesialis dan 70 tenaga kesehatan yang akan terus memantau kesehatan ratusan WNI selama 14 hari ke depan di Natuna.
Baca Juga: Batuk dan Demam Jadi Alasan 3 WNI di Wuhan Gagal Pulang ke Indonesia
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat