Suara.com - Ada sebuah studi baru yang mempelajari hubungan antara penumpukan zat besi dalam sel jaringan paru-paru dengan pasien asma.
Studi yang melakukan uji eksperimental terhadap model tikus ini menunjukkan, penumpukan zat besi di paru-paru memicu respons sistem kekebalan yang khas pada penderita asma dan menyebabkan penyakit makin memburuk.
Ini termasuk efek seperti peningkatan sekresi lendir dan jaringan parut pada paru-paru, yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan membuat sulit bernapas.
“Organ dan jaringan kita membutuhkan zat besi untuk mendukung aliran oksigen dan aktivitas enzim normal, tetapi infeksi dalam tubuh juga membutuhkan zat besi untuk berkembang," kata peneliti Jay Horvat, Associate Professor Immunology and Microbiology di University of Newcastle dan Hunter Medical Research Institute, Australia, penulis utama penelitian ini.
Itulah sebabnya sistem kekebalan tubuh memiliki cara untuk menyembunyikan mineral besi di dalam sel di mana infeksi tidak dapat mengakses zat besi.
"Ini dapat menghasilkan penumpukan zat besi di dalam sel dan jaringan di dekatnya," sambung Horvat, dikutip dari The Health Site.
Ia menjelaskan, ada bukti bahwa penyerapan zat besi yang tidak teratur dan kadar zat besi yang tidak normal berkaitan dengan penyakit paru-paru.
"Kita tahu bahwa kadar zat besi tinggi dan rendah dilaporkan pada penyakit asma, tetapi tidak jelas apakah penumpukan zat besi di paru-paru berkontribusi terhadap perkembangan penyakit."
Setelah melalui berbagai proses dan menganalisisnya pada model tikus yang berbeda, peneliti menemukan bahwa peningkatan kadar besi sel paru-paru menyebabkan respons sel inflamasi seperti sekresi lendir dan jaringan parut di saluran napas, yang menurut peneliti menyebabkan asma semakin memburuk.
Baca Juga: Kelebihan Zat Besi Tak Baik untuk Tubuh, Berisiko Sebabkan 5 Kondisi Ini!
"Pada manusia, sekresi lendir dan jaringan parut paru-paru mempersempit saluran udara, menyebabkan sumbatan aliran udara dan kesulitan bernapas."
"Gejala-gejala ini umum pada asma dan penyakit paru-paru kronis lainnya, dan data kami menunjukkan bahwa peningkatan zat besi di sel-sel dan jaringan paru-paru menyebabkan peningkatan efek ini," tandas Horvat.
Namun, harus ada penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan ini yang kemungkinan dapat mengarah pada terapi baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
5 HP RAM 8 GB untuk Multitasking Lancar Harga Rp1 Jutaan Terbaik Februari 2026
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
Terkini
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'