Suara.com - Sebagian besar ahli berpikir bahwa kemungkinan orang tanpa gejala merupakan salah satu faktor meningkatnya kasus virus corona.
"Penularan tanpa gejala dan simptomatik ringan merupakan faktor utama penularan Covid-19. Mereka akan menjadi pendorong penyebaran di masyarakat," kata Dr. William Schaffner, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt dan penasihat lama untuk CDC, pada Maret tahun ini.
Pada Senin (8/6/2020), pernyataan ini dibantah oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Mereka mengatakan pasien tanpa gejala atau asimptomatik tidak mendorong penyebaran virus.
Pejabat WHO pun menimbulkan keraguan pada sebagian besar peneliti yang berpikir penyakit ini kemungkinan sulit ditahan karena adanya infeksi tanpa gejala.
Bukti paling awal dari wabah ini adalah virus dapat menyebar dari orang ke orang, bahkan pada pasien asimptomatik. Tetapi pejabat WHO megatakan, sementara penyebaran tanpa gejala dapat terjadi, ini bukan cara utama penyebarannya.
"Dari data yang kami miliki, tampaknya masih jarang orang yang asimptomatik benar-benar menularkan ke individu sekunder. Ini sangat langka," kata Dr Maria Van Kerkhove, kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, dikutip CNBC.
ia juga mengimbau kepada para pemerintah untuk mendeteksi dan mengisolasi prang yang terinfeksi virus corona dengan gejala. Pemerintah juga harus melacak riwayat kontak pasien.
Menurutnya, dibutuhkan lebih banyak penelitian dan ata untuk menjawab pertanyaan apakah virus corona dapat menyebar secara luas melalui pembawa tanpa gejala.
"Kami memiliki sejumlah laporan dari negara-negara yang melakukan pelacakan kontal yang sangat rinci. Mereka mengikuti kasus tanpa gejala. Mereka mengikuti kontak. Dan mereka menemukan transmisi sekunder. Sangat jarang," sambungnya.
Baca Juga: Ahli: Demonstrasi Anti Rasis di AS Berisiko Percepat Penyebaran Covid-19
Dr Van Kerkhove mengatakan fokusnya saat ini adalah pada penderita simtomatik atau dengan gejala.
"Yang benar-benar ingin kami fokuskan adalah mengikuti kasus simptomatik. Jika kita benar-benar mengikuti semua kasus simptomatik, mengisolasi kasus-kasus itu, mengikuti kontak dan mengkarantina kontak tersebut, kita secara drastis dapat mengurangi kasusnya," tandasya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya