Suara.com - Saat pandemi Covid-19 berakhir, orang-orang akan kembali ke tempat-tempat yang sudah lama tidak mereka kunjungi, seperti sekolah, kantor, bioskop, mall dan lainnya. Hal itu disebut akan memimbulkan penyakit baru, salah satunya penyakit Legionnaires.
Dilansir dari The Conversation, bangunan-bangunan yang lama nganggur ternyata bisa menjadi tempat berkembang biaknya infeksi, dan bisa jadi menyimpan penyakit seperti penyakit Legionnaires.
Profesor Anne Clayson, menyoroti bahwa penyakit Legionnaires disebabkan oleh menghirup tetesan air yang mengandung bakteri Legionella pneumophilia.
"Ini sangat jarang, tetapi periode tidak aktif yang lama di gedung sangat meningkatkan risiko Legionnaires," tulisnya.
Penyakit Legionnaires menyebabkan pneumonia berat. Faktanya gejalanya dapat dengan mudah disalahartikan sebagai Covid-19 yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 1.900 orang di Indonesia.
Gejala dari Legionnaires bisa berupa demam, batuk kering, sesak napas dan nyeri otot.
"Tidak seperti Covid-19, Legionnaire tidak menyebar dari orang ke orang tetapi menyebabkan wabah besar di masyarakat melalui tetesan air udara yang terkontaminasi," catat Clayson.
Tetesan air yang terkontaminasi bisa dari pancuran, keran, menara pendingin, sistem pendingin udara, kolam spa, bak air panas, dan air mancur.
"Penyakit ini bisa mematikan dan menginfeksi banyak orang sekaligus," tambahnya.
Baca Juga: Bikin Gagal Fokus, Deretan Gaya Wali Kota Solo Pakai Masker Berkumis
Kelompok berisiko untuk penyakit Legionnaires sebagian besar sama dengan Covid-19. Setidaknya 90 persen kasus memengaruhi orang berusia di atas 45 tahun dan dua pertiganya adalah pria.
Memiliki penyakit yang mendasarinya, seperti paru-paru kronis dan penyakit lain seperti diabetes juga meningkatkan risiko penyakit parah dari penyakit Legionnaires, mirip dengan Covid-19.
Tetapi strategi untuk melawan Covid-19 tidak akan sama untuk melawan penyakit Legionnaires.
"Orang yang dicurigai menderita Covid-19 biasanya diminta untuk melakukan isolasi diri selama 14 hari untuk mencegah penularan penyakit kepada orang lain," catat Clayson.
"Tetapi penyakit Legionnaires tidak dapat ditularkan dari orang ke orang dan gejalanya memburuk secara signifikan selama periode tujuh hari. Perawatan cepat dengan antibiotik sangat penting. Keterlambatan pengobatan dapat menyebabkan kegagalan pernafasan yang parah," tambahnya.
Sementara itu, risiko tambahan penyakit Legionnaires terhadap pasien Covid-19 yang pulih saat ini juga tidak diketahui.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya