Suara.com - Aktris Jessica Mila mengaku memiliki kelainan tulang belakang atau yang dikenal skoliosis, di mana tulang punggungnya mengalami pembengkokan atau lengkungan menyerupai huruf c atau s.
Menurut bintang film 'Imperfect' tersebut, kondisi ini telah dialaminya sejak duduk di bangku SMP. Beberapa tahun terakhir, Jessica Mila sempat memeriksakan diri ke dokter dan beruntung derajat kemiringan tulang belakangnya tak bertambah.
Dari kondisi tersebut, mantan kekasih Mischa Chandrawinata ini sering merasa cepat pegal dan bagian tertentu tubuhnya juga kadang terasa sakit sekali.
Dari penjelasan dokter, perempuan kelahiran Langsa, Aceh ini tahu bahwa di tulang belakang terdapat banyak saraf.
"Jadi tergantung kayak dia kenanya ke bagian saraf yang mana. Jadi setiap orang itu (gejalanya) beda-beda. Jadi kalau misalnya aku berdiri terlalu lama atau duduk terlalu lama itu jadi pegel banget," kata Jessica.
Untuk mengurangi risiko sakit di bagian punggungnya, aktris kelahiran 3 Agustus 1992 itu harus rutin olahraga, menjaga pola makan yang sehat, dan tidur dengan teratur.
"Karena semuanya itu berpengaruh gitu. Jadi aku harus tetap jaga supaya hidup sehat. Karena itu sangat mempengaruhi tulang punggung aku. Jadi ya paling itu aja sih yang aku lakuin (olah raga)," katanya.
Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai skoliosis, berikut beberapa penjelasannya yang bisa kamu ketahui, seperti dilansir Medical News Today.
Apa Itu Skoliosis?
Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang melengkung ke satu sisi.
Baca Juga: Jessica Mila Idap Kelainan Tulang Belakang
Biasanya seseorang dengan skoliosis akan memiliki tulang belakang berbentuk C atau S di tulang belakangnya. Ini dapat mempengaruhi bagian tulang belakang mana pun, tetapi yang paling umum ialah bagian yang setingkat dada dan punggung bawah.
Skoliosis memiliki dua jenis berbeda, yakni yang lengkungannya struktural bersifat permanen, dan mungkin disebabkan oleh kondisi lain. Serta lengkungan nonstruktural yang bersifat sementara dan kemungkinan besar akan menghilang seiring waktu.
Gejala
Skoliosis biasanya terlihat sejak masa bayi atau remaja.
Gejala pada remaja
Bentuk paling umum dari skoliosis muncul pada remaja. Ini dikenal sebagai skoliosis idiopatik remaja, yang berarti penyebabnya tidak diketahui. Ini biasanya mempengaruhi anak-anak sejak usia 10 tahun.
Gejala dapat mencakup kepala terlihat miring tidak di tengah, tulang rusuk tidak simetris sehingga mungkin memiliki ketinggian yang berbeda, satu pinggul lebih menonjol dari yang lain, pakaian tidak 'menggantung' dengan benar saat dikenakan, satu bahu atau tulang belikat lebih tinggi dari yang lain, orang tersebut mungkin condong ke satu sisi dan panjang kaki yang tidak rata.
Gejala pada bayi
Pada bayi, gejalanya bisa meliputitonjolan di satu sisi dada, secara konsisten berbaring melengkung ke satu sisi, masalah dengan jantung dan paru-paru, yang menyebabkan sesak napas dan nyeri dada (dalam kasus yang lebih parah).
Gejala pada orang dewasa
Beberapa jenis skoliosis dapat menyebabkan sakit punggung, tetapi biasanya tidak terlalu menyakitkan.
Nyeri punggung tidak jarang terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dengan skoliosis yang sudah berlangsung lama.
Jika seseorang tidak menerima pengobatan untuk skoliosisnya, masalah dapat muncul di kemudian hari, seperti gangguan fungsi jantung dan paru-paru.
Penyebab dan faktor
Di bawah ini adalah beberapa kemungkinan penyebab skoliosis:
1. Kondisi neuromuskuler
Ini mempengaruhi saraf dan otot dan termasuk cerebral palsy (lumpuh otak), poliomyelitis (polio) dan distrofi otot (kelainan otot).
2. Skoliosis bawaan (muncul saat lahir)
Ini jarang terjadi dan terjadi karena tulang di tulang belakang berkembang secara tidak normal saat janin tumbuh di dalam tubuh ibu.
3. Gen spesifik
Setidaknya satu gen diduga terlibat dalam skoliosis.
4. Panjang kaki
Jika satu kaki lebih panjang dari yang lain, individu tersebut dapat mengalami skoliosis.
5. Skoliosis sindromik
Skoliosis dapat berkembang sebagai bagian dari penyakit lain, termasuk neurofibromatosis dan sindrom Marfan.
6. Osteoporosis
Ini dapat menyebabkan skoliosis sekunder karena degenerasi tulang.
7. Penyebab lainnya
Postur tubuh yang buruk, membawa tas punggung atau tas, gangguan jaringan ikat, dan beberapa cedera.
Pengobatan
Dalam kebanyakan kasus, perawatan tidak diperlukan, karena lengkungan akan mengalami perbaikan dengan sendirinya seiring pertumbuhan.
Namun, berdasarkan derajat kelengkungan dan usia anak, kombinasi bracing dan terapi fisik sering direkomendasikan.
Sejumlah kecil pasien skoliosis juga mungkin memerlukan pembedahan.
Berbagai latihan juga dapat membantu mengatasi skoliosis, yang bertujuan untuk menyetel kembali tulang belakang, tulang rusuk, bahu, dan panggul, untuk mencapai postur "normal".
Pada tahun 2016, beberapa peneliti menjelaskan bahwa semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa olahraga dapat membantu mengobati skoliosis.
Namun, lebih banyak pekerjaan diperlukan untuk mengetahui latihan mana yang paling efektif.
Diagnosa
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada tulang belakang, tulang rusuk, pinggul, dan bahu.
Dengan bantuan alat yang disebut inclinometer, atau skoliometer, dokter dapat mengukur derajat skoliosis.
Pasien lalu mungkin akan dirujuk ke spesialis ortopedi. Pemindaian pencitraan seperti sinar-X, CT scan, dan MRI dapat membantu menilai bentuk, arah, lokasi, dan sudut lengkungan.
Berita Terkait
-
Akui Sempat Malu Main Sinetron Ganteng Ganteng Serigala, Jessica Mila Tuai Kritik
-
Sinetron Fenomenal GGS Simpan Cerita Kelam, Kevin Julio Bongkar Kondisi Jessica Mila Tidur di Hutan
-
Jessica Mila Beberkan Rencana Hamil Lagi di 2026, Karier Sementara Ditahan?
-
Jessica Mila Ingin Segera Hamil Anak Kedua, Merasa Dikejar Umur?
-
Rencana Hamil Lagi di 2026, Jessica Mila Tunda Comeback Akting
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak