Suara.com - Resistensi antibiotik dapat terjadi ketika kita terlalu banyak menggunakan antibiotik. Selain ini, polusi juga dapat menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Sebuah studi oleh University of Georgia membuktikan hal ini. Mereka menggunakan proses yang dikenal sebagai analisis genom.
Penemuan mereka adalah adanya kolerasi kuat antara resistensi antibiotik dan kontaminasi logam berat di lingkungan.
Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Microbial Biotechnology edisi Juli, tanah dengan logam berat memiliki tingkat inang bakteri spesifik lebih tinggi yang disertai dengan gen kebal antibiotik. Bakteri tersebut termasuk Acidobacteriaoceae, Bradyrhizobium dan Streptomyces.
Dilansir The Health Site, bakteri tersebut memiliki gen yang kebal antibiotik, dikenal sebagai ARG, untuk tiga jenis antibiotik, yaitu vankomisin, bacitracin, dan polimiksin. Ketiga obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi pada manusia.
Bakteri tersebut juga multidrug-resistant (MDR), gen pertahanan yang kuat yang dapat melawan logam berat serta antibiotik.
Multidrug-resistant (MDR) merupakan stau keadaan ketika bakteri resisten terhadap minimal satu jenis antibiotik dari banyak antibiotik.
Ketika ARG ini ada di tanah, gen tahan logam, atau MRG, hadir untuk beberapa logam termasuk arsenik, tembaga, kadmium dan seng.
Mikroorganisme akan mengembangkan strategi dan tindakan penanggulangan baru dari waktu ke waktu untuk melindungi diri mereka sendiri, atau yang lebih sering disebut dengan bermutasi.
Baca Juga: Bisa Picu Kehamilan, Jangan Minum Antibiotik dan Pil KB Bersamaan!
Penggunaan antibiotik berlebihan di lingkungan menambah tekanan seleksi pada mikroorganisme sehingga dapat mempercepat kemampuannya untuk melawan berbagai kelas antibiotik.
Tetapi antibiotik bukan satu-satunya sumber tekanan seleksi, menurut laporan The Health Site.
Para peneliti mengatakan banyak bakteri memiliki gen yang secara bersamaan bekerja pada banyak senyawa yang akan menjadi racun bagi sel, dan ini termasuk logam.
Namun, para peneliti setuju bahwa lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk menentukan apakah gen resisten logam merespons dengan cara yang sama terhadap bakteri seperti gen resisten antibiotik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
- 4 Sepatu Lari Lokal Harga Rp100 Ribuan dengan Ulasan Terbaik, Pas Buat Jogging
- Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Bankir Perempuan Berpengaruh di Jajaran Top Level BUMN
Pilihan
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
Terkini
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu
-
2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit
-
Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup