Suara.com - Virus corona Covid-19 terus meningkat di seluruh dunia. Kini, pemerintah Inggris pun melarang pertemuan sosial atau berkumpul lebih dari 6 orang.
Inggris melarang lebih dari 6 orang berkumpul di dalam atau di luar ruangan. Tapi, ada beberapa pengecualian, seperti sekolah, tempat kerja, olahraga tim yang terorganisir, pemakaman dan pernikahan sesuai standar protokol kesehatan Covid-19.
Jika melanggar, seseorang bisa dikenakan denda sebesar Rp 1,9 juta yang akan berlipat ganda dengan setiap pelanggarannya sampai batas maksimum Rp 61 juta.
Sebelum aturan ini berlaku, polisi hanya diberi kewenangan untuk menghentikan atau membubarkan perkumpulan yang lebih dari 30 orang di Inggris.
Saat ini, pedoman berkumpul lebih dari 6 orang dari rumah tangga yang sama maupun berbeda, baik di dalam maupun luar ruangan telah dilarang.
"Salah satu masukan yang kami dapatkan, termasuk dari polisi adalah kami membutuhkan peraturan yang sangat sederhana sehingga semua orang tahu itu," kata Matt Hancock, Menteri Kesehatan dikutip dari Fox News.
Matt Hancock juga mengatakan pedoman ini sesungguhnya sangat sederhana. Pertemuan sosial tidak dilarang, tapi jumlahnya hanya terdiri dari 6 orang dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku dan menjaga jarak fisik.
Namun, aturan batasan perkumpulan sosial hanya 6 orang membuat beberapa keluarga tidak akan bisa berkumpul bersama.
Matt Hancock menjelaskan bahwa beberapa keluarga tidak bisa melihat atau menengok kakek dan neneknya secara bersamaan.
Baca Juga: Uni Eropa Klaim Vaksin Covid-19 akan Tersedia November 2020!
"Kami memiliki keluarga beranggotakan 5 orang. Jadi, kami akan melihat satu orang lagi pada waktu lain," kata Matt Hnacock.
Matt Hancock lantas membahas lonjakan kasus baru-baru ini di Bolton yang menurutnya tingkat kasus positif virus corona Covid-19 tertinggi di Inggris, yakni 120 kasus per 100 ribu.
"Meningkatnya kasus di Bolton sebagian karena sosialisasi oleh orang-orang berusia 20-an dan 30-an. Kami mengetahui ini dari pelacakan kontak," ujarnya.
Sistem pelacakan kontak telah mengidentifikasi sejumlah pub menjadi tempat penyebaran virus corona Covid-19 secara signifikan.
Pihaknya juga khawatir anak-anak justru yang menyebarkan virus corona Covid-19 kepada kakek dan neneknya pada Natal mendatang. Karena itu, aturan ini perlu diberlakukan supaya bisa membalikkan kondisi sebelum Natal tiba.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026