- Sekitar 45.000 bayi di Indonesia lahir dengan PJB tiap tahun, mayoritas berasal dari luar Pulau Jawa.
- Yayasan RMHC mendirikan Rumah Singgah Kemanggisan sebagai fasilitas gratis pendukung keluarga pasien PJB di Jakarta.
- Dukungan emosional keluarga penting bagi keberhasilan terapi, tetapi mereka terkendala biaya hidup dan akomodasi selama pengobatan.
Suara.com - Penyakit Jantung Bawaan (PJB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius pada anak di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 45.000 bayi lahir dengan kondisi ini, dan sekitar 91 persen di antaranya berasal dari luar Pulau Jawa. Artinya, ribuan keluarga harus menempuh perjalanan jauh ke kota besar untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Proses pengobatan PJB bukan perkara singkat. Banyak pasien anak memerlukan operasi, kontrol rutin, hingga pemantauan jangka panjang di rumah sakit rujukan seperti RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Di balik perjuangan medis tersebut, keluarga juga dihadapkan pada tantangan besar: biaya hidup, tempat tinggal sementara, serta tekanan emosional selama mendampingi anak.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa dukungan keluarga memiliki peran penting dalam keberhasilan terapi anak dengan PJB.
“Anak yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga cenderung lebih tenang dan kooperatif selama proses pengobatan. Namun banyak keluarga dari luar daerah menghadapi kendala tempat tinggal dan biaya hidup selama mendampingi anaknya berobat,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC) menghadirkan Rumah Singgah Kemanggisan di Jakarta Barat. Rumah singgah ini menjadi yang keempat di Indonesia dan terbesar, dengan kapasitas 66 kamar, untuk menampung keluarga pasien anak yang menjalani rujukan pengobatan di sejumlah rumah sakit sekitar kawasan tersebut.
Ketua Yayasan RMHC, Caroline Djajadiningrat, menyebut kehadiran rumah singgah bukan sekadar menyediakan tempat bermalam, tetapi menjadi ruang aman bagi keluarga yang tengah berjuang.
“Kami merancang rumah singgah sebagai rumah kedua bagi keluarga pasien. Mereka tidak hanya membutuhkan tempat tinggal sementara, tetapi juga dukungan emosional dan lingkungan yang suportif selama masa pengobatan jangka panjang,” ujarnya.
Rumah Singgah Kemanggisan dilengkapi fasilitas kamar privat untuk setiap keluarga, dapur dan ruang makan bersama, ruang bermain anak, ruang belajar, area ibadah, hingga layanan dukungan psikososial. Seluruh layanan diberikan secara gratis agar keluarga dapat fokus pada proses penyembuhan anak.
Selama 15 tahun beroperasi, empat rumah singgah yang dikelola Yayasan RMHC telah menyediakan lebih dari 62.000 malam menginap bagi lebih dari 2.600 keluarga pasien anak dari berbagai daerah. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan fasilitas pendamping bagi pasien anak, khususnya mereka yang harus berjuang jauh dari kampung halaman demi mendapatkan layanan kesehatan terbaik.
Baca Juga: Heartology Cetak Sejarah: Operasi Jantung Kompleks Tanpa Belah Dada Pertama di Indonesia
Melalui kolaborasi dengan PERKI dan dukungan ratusan mitra serta donatur, Yayasan RMHC berharap semakin banyak keluarga pasien PJB yang tidak lagi harus menghadapi perjalanan panjang ini sendirian. Sebab dalam proses penyembuhan anak, kehadiran keluarga bukan hanya pelengkap—melainkan bagian penting dari terapi itu sendiri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?