-
Perilaku asbun Gen Alpha berkaitan erat dengan asupan gizi mikro yang baik.
-
Gizi seimbang dan mindful eating mendukung fungsi kognitif serta kemampuan berpikir anak.
-
Orang tua perlu mengimbangi literasi digital agar komunikasi dengan anak tetap lancar.
Suara.com - Media sosial tengah diramaikan cerita perilaku asbun gen alpha. Bahkan generasi kelahiran 2010 hingga 2025 ini kerap dijuluki generasi asbun alias asal bunyi atau ceplas-ceplos. Tapi benarkah perilaku ini cerminan gizi anak semakin membaik?
Peneliti sekaligus Praktisi Kedokteran Komunitas dan Kedokteran Kerja, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menilai perilaku asbun gen alpha tidak lepas dari asupan dan akses pangan yang lebih bergizi semakin terbuka di masyarakat.
Dr. Ray mengatakan perilaku makan gen alpha sangat berbeda dari generasi milenial kelahiran 1981 hingga 1996, yang kerap 'dicekoki' istilah yang penting kenyang saat makan.
Namun pada gen Z dan gen alpha ini sudah berkembang ke arah proliferasi teknologi alias konsumsi gizi beragam hingga konsep mindful eating yaitu makan dengan penuh kesadaran.
"Nah, mindful eating itu salah satunya fokus pada pentingnya tidak melupakan asupan zat gizi mikro. Zat gizi mikro apa sih? Vitamin, mineral, besi, vitamin A, vitamin C, vitamin E. Nah, ini kemudian sangat berkaitan langsung dengan gizi yang dipakai untuk fungsi kognitif (kemampuan berpikir)," papar Dr. Ray dalam acara Health Corner oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dokter Spesialis Gizi, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK juga turut hadir di forum literasi gizi keluarga bertajuk Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap tersebut. Ia mengatakan kenyang saja tidak cukup untuk tumbuh kembang anak, tapi juga harus seimbang antara nutrisi makro dan mikro.
"Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan," ungkap dr. Juwalita.
Dokter yang juga Medical Science Director Danone Indonesia itu mengungkap, ada banyak penelitian menunjukkan gen Z dan gen alpha lebih kritis hingga mampu mengeluarkan berbagai 'kalimat asbun'.
Di sisi lain, menurut Dr. Ray ini juga karena aspek well-being, mental health hingga mindful eating yang didapatkan gen alpha dari orang tua yang semakin teredukasi.
Baca Juga: Skibidi, Delulu, Hingga Tradwife: Bahasa Gaul Gen Alpha Kini Resmi Masuk Kamus Cambridge
Hasilnya tidak jarang gen Z dan gen alpha lebih kritis dan enggan terlalu 'ngoyo' di dunia kerja. Dr. Ray juga mengingatkan ada peran teknologi digital hingga media sosial dalam tumbuh kembang mereka, hasilnya kalimat ceplas-ceplos ini kerap dilontarkan gen alpha.
"Karena penyebaran informasi, jargon-jargon, terminologi dan kata-kata yang ceplas-ceplos itu kemudian menjadi lebih masif. Jadi, anak-anak itu membandingkan cara mereka berinteraksi, berkomunikasi dengan orang tua, itu dengan membandingkan dengan anak-anak yang di Amerika, karena gampang kan ada di gadget," papar Dr. Ray.
Hasilnya pakar yang juga Pendiri sekaligus Ketua Health Collaborative Center (HCC) Indonesia itu mengingatkan orang tua juga harus bisa mengimbangi dunia digital anak, dengan ikut turun langsung aktif di media sosial untuk menghapus jarak komunikasi dengan buah hati.
"Padahal ternyata gen Z atau gen alpha itu sudah mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya merupakan bentuk refleksi dari frustrasi. Tapi orang tua ternyata melihat ini sebagai bentuk dari mungkin rasa syukur," pungkas Dr. Ray.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat