Suara.com - Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri diperingati tepat hari ini. Kehilangan seseorang karena bunuh diri tidaklah mudah. Terlepas dari kenyataan bahwa nyawa yang hilang, hal itu memengaruhi keluarga, teman, dan masyarakt secara luas.
Dengan banyak orang yang menderita masalah kesehatan mental atau meninggal bunuh diri adalah pandemi tersembunyii yang tidak terlalu diperhatikan banyak orang
Selain itu, masih banyak mitos terkait bunuh diri yang dipercaya masyarakat. Oleh sebab itu penting untuk mengetahui mitos terkait bunuh diri. Dilansir dari Health Shot, berikut ini rangkumannya.
Kecenderungan Bunuh Diri Konstan Setiap Waktu
Risiko bunuh diri yang tinggi sering kali bergantung pada situasi tertentu dan berlangsung untuk jangka pendek.
Meskipun pikiran seperti itu mungkin datang dan pergi, mengidentifikasi tanda-tandanya sejak dini dapat memungkinkan orang tersebut untuk mencari bantuan dan bangkit kembali.
Tidak benar membicarakan bunuh diri kepada seseorang yang menderita penyakit mental atau kepada seseorang yang sedang memikirkannya
Seringkali, orang yang menunjukkan kecenderungan bunuh diri atau memiliki kondisi kesehatan mental tertentu takut membuka diri terhadap seseorang karena stigma yang terkait dengannya.
Berbicara tentang bagaimana perasaan mereka sebenarnya dapat membantu mereka menganalisis keputusan mereka dan merasa lebih baik. Ini bisa menjadi cara yang baik untuk mencegah perasaan seperti itu.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Mental, Ini Pentingnya Me Time di Tengah Pandemi
Hanya mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental yang meninggal karena bunuh diri
Kecenderungan bunuh diri bisa menunjukkan ketidakbahagiaan yang dalam. Namun, ini mungkin selalu disebabkan oleh masalah kesehatan mental yang mendasarinya. Banyak dari mereka yang bunuh diri melakukannya karena alasan selain ini juga.
Bunuh diri terjadi tiba-tiba tanpa peringatan
Orang dengan kecenderungan bunuh diri sering kali menunjukkan tanda peringatan tertentu, yang bisa berupa verbal atau perilaku.
Sangat penting bagi teman dan anggota keluarga untuk memperhatikan tanda-tanda seperti itu dan mengambil tindakan pencegahan sedini mungkin.
Hanya mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi rendah yang meninggal karena bunuh diri
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan