Suara.com - Sebagian besar wanita pasti mengalami perubahan suasana hati menjelang atau selama menstruasi, seperti mudah bad mood atau sering marah-marah.
Sindrom pramentsruasi (PMS) ini memengaruhi sebagian besar wanita usia subur dengan banyak wanita merasakan perubahan suasana hati pada hari-hari sebelum menstruasi.
Gejala menstruasi seperti mudah tersinggung, marah dan perubahan suasana hati ini merupakan gangguan bulanan bagi kebanyakan wanita. Sedangkan, PMS yang parah bisa melemahkan emosi bagi sebagian wanita.
Tapi, mengatasi PMS dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup bisa membantu wanita mengontrol perubahaan mood dan kesulitan emosional lainnya.
PMS bisa menyebabkan perubahan suasana hati yang liar dan tak terkendali pada beberapa wanita, biasanya berubah dari rasa sedih menjadi ledakan kemarahan dan serangan kecemasan.
"Anda akan mengetahui naik turunnya emosi seorang wanita karena PMS, jika hal itu terjadi secara konsisten seminggu hingga 2 minggu sebelum menstruasi. Lalu, hal ini akan berhenti pada satu atau dua hari setelah menstruasi," kata Carol Livoti, ginekolog New York City dan rekan dari American College of Obstetricians dan Ginekolog dikutip dari Every Day Health.
Gejala PMS yang berupa perubahan suasana hati ini terjadi selama fase terakhir (luteal) dari siklus menstruasi yang dimulai setelah ovulasi, biasanya dari hari ke-14 hingga 28 dari siklus bulanan wanita.
Gejala PMS emosional lainnya yang paling umum termasuk sifat mudah marah, depresi, mudah menangis, kepekaan berlebihan, gugup dan cemas, kesedihan dan amarah yang bergantian.
Menurut para peneliti, gangguan emosional ini terjadi diduga terkait dengan naik turunnya hormon, khususnya estrogen sepanjang siklus menstruasi.
Baca Juga: Luhut Yakin Cara Ini Efektif Tekan Penyebaran Virus Corona
Kadar estrogen mulai meningkat secara perlahan setelah menstruasi wanita berakhir dan mencapai puncaknya dua minggu kemudian.
"Kemudian tingkat estrogen turun dan mulai naik perlahan sebelum turun lagi tepat sebelum menstruasi dimulai," jelas Livoti.
Gejala PMS ini bisa diperburuk dengan stres akibat perceraian, kehilangan pekerjaan dan tekanan lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hormon wanita berinteraksi dengan bahan kimia otak dengan cara memengaruhi suasana hati penderita PMS.
"Penurunan kadar estrogen selama fase luteal dari siklus menstruasi mungkin bisa menyebabkan penurunan serotonin. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan," kata Livoti.
Karena, kadar serotonin yang lebih rendah berhubungan dengan depresi, mudah marah dan meningkatnya nafsu makan.
Tag
Berita Terkait
-
4 Zodiak Paling Mengerikan dan Horor Ketika Marah, Ada yang Tak Segan Balas Dendam
-
Istri Difitnah Jadi Buzzer Pemerintah, Emosi Denny Sumargo Meledak
-
Anak Andre Taulany Marah Kamarnya Direkam ART Diam-Diam
-
Dari Minum Air Hangat ke Empati Nyata: Cara Baru Mendukung Perempuan Saat Menstruasi
-
Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!