Suara.com - Wanita dikategorikan sebagai orang paling berisiko mengalami efek jangka panjang virus corona Covid-19 atau Long Covid-19 dibandingkan pria. Tapi tidak hanya wanita, orang lebih tua dan pasien dengan berbagai gejala juga berisiko mengembangkan Long Covid-19.
Menurut makalah dari para peneliti di King's College London, Covid-19 panjang didefinisikan sebagai gejala yang menetap selama lebih dari 4 minggu. Sementara durasi pendek Covid-19 biasanya terjadi kurang dari 10 hari, tanpa infeksi ulang.
Analisis dari Covid Symptom Study menunjukkan, sekitar 1 dari 20 orang dengan Covid-19 atau 45 persen cenderung mengalami gejala virus corona selama 8 minggu atau lebih.
Data yang dikumpulkan lebih dari 4.182 pengguna aplikasi di Inggris ini dilaporkan positif terinfeksi virus corona Covid-19 serta mencatat informasi kesehatan mereka.
Penelitian pun mengidentifikasi dua kelompok utama penderita Covid-19 yang berkepanjangan. Satu kelompok mengalami gejala gangguan pernapasan, seperti batuk dan sesak napas, kelelahan dan sakit kepala.
Kelompok lain mengalami gejala "multi-sistem" di banyak bagian tubuh, seperti jantung berdebar-debar, masalah usus, kesemutan atau mati rasa dan kabut otak.
"Penting bagi kami untuk menggunakan pengetahuan yang kami peroleh dari gelombang pertama pandemi untuk mengurangi dampak jangka panjang gelombang kedua virus corona. Cara ini akan membuka jalan bagi uji coba intervensi awal untuk mengurangi efek jangka panjang," kata Dr Claire Steves, akademisi klinis dan penulis senior di King's College London dikutip dari CNN.
Sementara, sebagian besar orang dengan virus corona Covid-19 dalam penelitian tersebut melaporkan kondisi kembali normal dalam 11 hari atau kurang. Sekitar 1 dari 7 orang lantas melaporkan gejala yang berlangsung setidaknya selama 4 minggu.
Lalu, sekitar 1 dari 20 orang mengaku gejalanya hilang selama setidaknya 8 minggu dan sekitar 1 dari 50 orang melapor gejalanya hilang dalam 12 minggu.
Baca Juga: 3 Penelitian Buktikan Obat Rheumatoid Arthritis Tak Bisa Lawan Virus Corona
Penelitian ini juga menemukan sekitar 1 dari 5 orang dewasa yang lebih tua dari 70 tahun, 21,9 persen yang positif terinfeksi virus corona Covid-19 lebih berisiko mengembangkan Long Covid-19. Persentase ini lebih besar daripada pasien virus corona berusia 18 hingga 49 tahun.
Selain orang yang lebih tua, orang yang memiliki BMI yang lebih tinggi dan menderita Covid-19 pendek juga berisiko mengembangkan Long Covid-19.
Bahkan para peneliti juga menemukan orang dengan asma lebih mungkin mengembangkan virus corona dalam waktu lama. Tapi, mereka tidak menemukan hubungan jelas dengan kondisi kesehatan lain yang mendasari dengan Long Covid-19.
Namun, analisis tersebut memiliki beberapa keterbatasan, antara lain informasi yang dilaporkan, Informasi yang diperoleh secara online melalui aplikasi, dan pengguna aplikasi yang tidak proporsional adalah perempuan dan lebih muda dari 70 tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026