Suara.com - Pemerintah Indonesia telah memberikan lampu hijau untuk memberlakukan sekolah tatap muka mulai semester genap Tahun Ajaran 2020/2021 pada Januari 2021 mendatang.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah berlangsung sejak Maret telah berdampak terlalu besar terhadap kesenjangan pendidikan di Nusantara.
Menteri Nadiem juga khawatir dengan aktivitas PJJ yang semakin lama dapat memiliki dampak semakin besar terhadap psikososial anak.
"Karena lost of learning-nya terlalu besar. Psikososial anak-anak kita yang sangat sulit lakukan PJJ. Itu dampak psikososialnya sangat luar biasa besar dan bisa permanen," kata Menteri Nadiem dalam siaran langsung Instagtam bersama aktris Maudy Ayunda, Jumat (27/11/2020).
Tantangan seperti tingkat stres, merasa terisolasi, dan perasaan kesepian karena tidak bertemu temen -- menurut Menteri Nadiem, sangat berdampak kepada anak-anak jika PJJ terus diperpanjang.
Baginya, tingkat emosional anak juga sama penting dengan kemampuan kognitif. "Kedua itu gak akan bisa dipisahkan," ujarnya.
Saat ini pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19.
SKB itu mengatur tentang sekolah tatap muka mulai Januari 2021 dan telah ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri.
Meski begitu, Menteri Nadiem menjelaskan bahwa hak membuka sekolah akan diberikan kepada masing-masing kepala daerah, kepala sekolah, juga komite sekolah atau perwakilan orangtua murid.
Baca Juga: Curhatan Tenaga Pendidik di Hari Guru Nasional: Kebobolan Paket Internet!
"Bahkan kalau komite sekolah udah bilang boleh tapi ada satu orangtua bilang gak nyaman (anak) pergi ke sekolah, itu diperbolehkan, gak bisa dipaksa. Jadi semua ujungnya ke orangtua," ujar Menteri Nadiem.
Sehingga yang terjadi sekolah akan menjalankan hybrid model atau dua cara dengan belajar tatap muka juga tetap ada PJJ.
Diakui Menteri Nadiem, metode itu akan sulit dilakukan. Namun tetap perlu dijalankan karena sekolah tatap muka yang direncanakan bukan berarti anak kembali belajar dalam kondisi normal seperti sebelum pandemi Covid-19.
"Ini banyak misspersepsi. Jadi harus ada dua rotasi minimal. Karena hanya boleh 18 anak per kelas, biasanya 36 boleh. Jadi itu aturannya. Ini adalah protokol ketat kalau kita mau memperbolehkan, gak boleh mudah tatap muka. Ada sanitasi, harus pakai masker, harus 50 persen kapasitas. Gak boleh ada kantin, gak ada ekskul," paparnya.
Di sisi lain, Menteri Nadiem kembali menegaskan bahwa anak membutuhkan sekolah tatap muka agar kembali terjalin interaksi secara langsung antara guru dan antar-murid.
"Kita sudah menyadari, kita gak bisa terus menerus menunggu dan mengorbankan satu generasi karena dampaknya bisa permanen. Ini akan berikan kesempatan bagi anak-anak yang benar-benar sulit lakukan PJJ untuk kembali ke sekolah. Paling tidak kalau pun gak punya internet bisa datang tiga kali semingu ke sekolah, belajar dengan gurunya lalu dia pulang. Paling tidak, dapat interaksi langsung lagi dan bertemu teman-temannya," tutup Menteri Nadiem.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional