- Obat kolesterol dan diabetes sering dianggap bisa merusak fungsi ginjal.
- Pakar menegaskan anggapan tersebut hanya mitos dan menegaskan fungsi obat sebenarnya.
- Obat diabetes golongan SGLT2 justru berfungsi mengontrol kadar gula darah sekaligus memberikan proteksi pada kinerja ginjal.
Suara.com - Tingkat kepatuhan minum obat masyarakat Indonesia masih terbilang rendah. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran bahwa obat kolesterol hingga obat jantung dapat merusak ginjal maupun hati. Namun, benarkah demikian?
Brand and Marketing Manager Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, dengan tegas membantah anggapan tersebut. Menurutnya, konsumsi obat sesuai anjuran dokter justru dapat membantu mencegah kerusakan organ akibat penyakit yang tidak terkontrol.
"Kalau untuk obat kolesterol maupun obat diabetes, tidak menyebabkan kerusakan ginjal," ujar dr. Wicak dalam acara edukasi media di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa obat diabetes golongan Sodium-Glucose Cotransporter 2 (SGLT2) bekerja dengan mencegah ginjal menyerap kembali glukosa dalam darah. Dengan demikian, kelebihan gula darah dapat dikeluarkan melalui urine.
"Obat-obatan SGLT2 generasi awal bahkan menunjukkan apa yang disebut sebagai class effect. Efek ini bukan hanya membantu pasien diabetes mengontrol gula darah, tetapi juga melindungi fungsi ginjal," papar dr. Wicak.
Seperti diketahui, diabetes dapat memicu berbagai penyakit kronis lain, seperti gagal ginjal dan gagal jantung. Kondisi tersebut dikenal sebagai komplikasi diabetes dan masih banyak ditemukan di masyarakat.
"Nah, golongan SGLT2 ini dapat membantu memproteksi ginjal sekaligus mengurangi risiko heart failure atau gagal jantung," jelasnya.
Sayangnya, tantangan kepatuhan minum obat tidak hanya dipengaruhi oleh anggapan bahwa obat kolesterol dan diabetes merusak ginjal. Banyak pasien juga merasa terbebani karena harus mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus pada waktu yang berbeda.
Karena itu, industri farmasi terus berinovasi dengan mengembangkan kombinasi beberapa obat dalam satu tablet tanpa mengurangi efektivitasnya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Baca Juga: Viral TNI Ikut Hadang Massa Mahasiswa saat Demo di Bundaran HI, Kapuspen: Atas Permintaan Polri
"Yang ingin kami lakukan adalah menggabungkan beberapa obat menjadi satu. Memang tidak semua obat bisa digabungkan karena ada mekanisme kerja tertentu yang mengharuskan obat diminum pada waktu yang berbeda," ungkap dr. Wicak.
Pada terapi kolesterol, misalnya, kandungan statin yang bekerja menghambat produksi kolesterol di hati dan ezetimibe yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus dapat dikombinasikan dalam satu tablet, seperti pada Crezet.
Kabar baiknya, kombinasi dua jenis obat kolesterol tersebut terbukti dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara rutin.
Menurut dr. Wicak, edukasi dokter kepada pasien kolesterol juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, masih banyak pasien yang menghentikan pengobatan setelah hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kolesterol mereka sudah terkendali.
Padahal, obat kolesterol umumnya harus tetap dikonsumsi sesuai anjuran dokter agar kadar kolesterol tetap stabil dan risiko penyakit kardiovaskular dapat ditekan.
"Sering kali pasien merasa tidak memiliki keluhan. Saat diperiksa, kolesterolnya bagus karena rutin minum obat, tekanan darahnya juga terkontrol. Lalu pasien berpikir, 'kalau sudah bagus, saya berhenti saja minum obatnya'," kata dr. Wicak.
"Padahal seharusnya pengobatan tetap dilanjutkan. Yang berhak memutuskan penghentian terapi adalah dokter," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?