Saran lain adalah mendeskripsikan tindakan karakter buku cerita. Ketika seseorang gagal untuk mengatakan yang sebenarnya, jangan berkata, "Sam adalah pembohong," karena itu justru mendeskripsikan orangnya.
Tetapi, katakan tindakan yang telah dilakukan, yaitu "Sam berbohong". Kemudian tindak lanjuti dengan, "Menurut kamu mengapa Sam melakukan itu? Bagaimana perasaan orang lain jika mereka mengetahuinya? Haruskah mereka memaafkan Sam?"
Dengan terlibat pada rasa ingin tahu, orangtua telah mencontohkan fleksibilitas yang anak perlukan dalam situasi kehidupan nyata. Orangtua juga menandakan bahwa tokoh Sam itu pada dasarnya bukan tidak jujur, tetapi berbohong dalam situasi tertentu. Dengan begitu, anak memahami adaptasi situasi.
5. Bantu anak-anak untuk meniru kebiasaan baik
Anak-anak sangat pandai meniru apa yang disaksikannya. Mereka belajar secara alami dengan menonton, bermain, juga meniru orang dewasa. Ini adalah cara yang efisien untuk belajar dan memberi mereka rasa penguasaan.
Jadi berikan anak sapu kecil atau sekop mini, ataupun mesin pemotong rumput mainan dan biarkan ia meniru aktivitas yang sering dilakukan orang rumah di dekatnya.
Tetapi yang perlu diingat bahwa anak-anak kecil akan meniru apapun yang ia saksikan, tanpa berpikir apakah itu baik atau buruk.
6. Kenalkan anak-anak dengan keberagaman manusia
Cobalah untuk menunjukkan keragaman sebanyak mungkin, terutama saat mereka masih bayi. Paling mudah adalah dengan menunjukan anggota keluarga yang lain, di luar ayah dan ibunya. Seperti kakek nenek, bibi dan paman, teman, juga anak lain.
Menurut penelitian, bayi yang berinteraksi secara teratur dengan penutur bahasa yang berbeda dapat mempertahankan sinyal otak kritis yang membantu mereka mempelajari bahasa lain di masa depan.
Demikian pula, bayi yang melihat banyak ragam wajah merangsang kemampuan untuk bisa membedakan dan mengingat lebih baik ragam wajah di kemudian hari. Ini bisa menjadi caa mengajarkan anak anti-rasisme paling sederhana yang dapat dilakukan orangtua.
Baca Juga: Waduh, Toxic Parent Ternyata Bisa Diturunkan ke Generasi Berikutnya, Lho!
7. Biarkan anak mandiri bereksplorasi
Anak-anak suka mencoba berbagai hal sendiri tanpa bantuan, seperti berpakaian atau menyusun teka-teki. Tentu itu bagus. Bahkan tindakan yang terlihat seperti perilaku buruk, mungkin merupakan upaya anak-anak untuk memahami pengaruhnya. Ketika anak yang berusia dua tahun melempar anggurnya ke lantai dan menunggu orangtuanya untuk mengambilkan, bukan berarti anak bermaksud nakal. Kemungkinan besar, dia ingin tahu sesuatu tentang tindakannya akan berdampak seperti apa jika dilakukan.
Mengetahui kapan orangtua harus turun tangan dan kapan harus membiarkan anak, memang menjadi tantangan. Namun jika orangtua selalu hadir, membimbing, dan mengurus setiap kebutuhannya, anak justru tidak belajar melakukan berbagai hal sendiri.
Terkadang, membiarkan anak berjuang membangun ketahanan dan membantu mereka memahami konsekuensi dari tindakannya juga perlu dilakukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua
-
Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat
-
Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?
-
Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty
-
Cemas Datang Tiba-Tiba? Ini 7 Cara Ampuh Mengatasi Anxiety dalam Hitungan Menit