Suara.com - Kemunculan strain baru virus corona Covid-19 telah memicu keresahan, karena dinilai menyebabkan lonjakan kasus di Inggris.
Tetapi, Anda mungkin penasaran gejala infeksi akibat strain baru virus corona Covid-19 akan sama dengan varian sebelumnya atau tidak.
Berikut ini dilansir dari Express, lima gejala strain baru virus corona Covid-19 pada orang dewasa, anak-anak dan balita.
1. Kelelahan
Menurut data dari ZOE Symptom Tracker App, kelelahan merupakan salah satu gejala utama pada anak penderita virus corona Covid-19.
Data itu mengungkapkan 55 persen anak menderita kelelahan dengan tanda mereka sering menyendiri. Pada balita, gejala kelelahan akan terlihat dengan mereka yang tantrum dan sering menangis.
"Kelelahan ini berkaitan dengan zat sitokin yang diproduksi oleh sistem kekebalan," kata Dr Richard Watkins, seorang dokter penyakit menular dan profesor kedokteran di Northeast Ohio Medical University.
Zat sitokin ini akan memberi sinyal pada tubuh mengenai waktunya untuk bekerja dan melawan infeksi. Akibatnya, kondisi ini bisa membuat Anda merasa lelah.
2. Sakit kepala
Baca Juga: Amankah Vaksin Moderna untuk Wanita Hamil? Ini Kata Ahli!
Gejala kedua dari strain baru virus corona Covid-19 paling umum adalah sakit kepala, yang terjadi pada 53 persen anak-anak. Jika kondisi ini terjadi pada anak kecil, Anda mungkin akan sulit mendeteksinya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat juga resmi mencantumkan sakit kepala sebagai gejala virus corona Covid-19 pada anak-anak. Pada waktu bersamaan, Profesor Anne MacGregor juga mengatakan bahwa anak-anak sering sakit perut.
Profesor Anne MacGregor menyarankan para orangtua untuk bertanya-tanya kepada anak-anak mereka jika mengeluhkan sakit kepala dan sakit perut.
3. Demam
Demam salah adalah satu tanda peringatan virus corona Covid-19 pada orang dewasa, tetapi 49 persen anak-anak juga mengeluhkan kondisi ini. Biasanya, anak-anak mengalami demam hingga 37 derajat celcius atau lebih.
Saat suhu tubuh seseorang meningkat, mereka mungkin akan merasa dingin sampai suhu tersebut turun dan berhenti naik. Orang-orang menggambarkan kondisi ini sebagai kedinginan.
Ketika infeksi terjadi, sistem kekebalan akan akan berusaha melawannya. Sehingga suhu tubuh yang meningkat ini adalah bagian normal dari reaksi kekebalan tubuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya