Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewaspadai ketimpangan dalam program vaksinasi virus Corona Covidf-19 yang sudah dimulai oleh sejumlah negara saat ini.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, negara-negara kaya perlu berbagi vaksin dengan negara-negara miskin.
"Lebih dari 39 juta dosis vaksin telah diberikan di sedikitnya 49 negara berpenghasilan lebih tinggi. Hanya 25 dosis yang diberikan di satu negara paling miskin," ujarnya, dilansir VOA Indonesia.
"Saya perlu berterus terang: dunia berada di ambang malapetaka kegagalan moral – dan harga kegagalan ini akan dibayar dengan nyawa dan penghidupan di negara-negara termiskin di dunia," kata Dirjen WHO itu.
Tedros menegaskan tidak benar jika orang dewasa muda yang sehat di negara kaya mendapatkan vaksin lebih dulu daripada tenaga kesehatan di negara miskin.
"Keadilan terkait vaksin bukan hanya keharusan moral, ini adalah keharusan strategis dan ekonomi," paparnya.
Sementara itu, pakar penyakit menular terkemuka AS Anthony Fauci pada Minggu (17/1/2021) mengatakan, rencana ambisius presiden terpilih Joe Biden untuk memvaksinasi 100 juta orang dengan vaksin Covid-19 dalam 100 hari pertama masa jabatannya benar-benar hal yang dapat dilakukan.
Berbicara dalam acara Meet the Press di TV NBC, direktur Institut Nasional bagi Alergi dan Penyakit Menular itu mengatakan, bahwa dengan vaksin yang ada sekarang dan vaksin tambahan yang dijadwalkan masuk pasar dalam waktu dekat, ditambah dengan kepatuhan untuk mengenakan masker dan menjaga jarak sosial, ia yakin AS dapat berada dalam kondisi yang baik.
Sekarang ini, AS jauh dari kondisi tersebut. Dengan hampir 24 juta kasus Covid-19, AS memiliki jumlah kasus lebih banyak daripada negara manapun.
Baca Juga: Pemkot Bandung Perbolehkan Pengidap HIV dan AIDS Disuntik Vaksin Covid-19
Peluncuran kampanye imunisasi mengalami masalah sejauh ini, dengan jumlah orang yang diimunisasi pada akhir tahun lalu jauh lebih sedikit daripada yang diprediksi pemerintahan Trump.
Berita Terkait
-
Catat! Ini 10 Negara yang Berisiko Terkena Wabah Ebola Setelah Lonjakan Kasus di Kongo
-
Warga Uganda Dilarang Saling Jabat Tangan, Alasannya Bikin Ngeri
-
Thailand Tetapkan Virus Hanta sebagai Penyakit Menular Berbahaya, Indonesia Kapan?
-
WHO Pastikan Risiko Hantavirus Rendah, Tapi Ancaman Belum Berakhir
-
Dirjen WHO: Hantavirus Bukan Pandemi Baru Seperti COVID-19
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien