Suara.com - Setelah vaksinasi Covid-19 tahap pertama dilakukan beberapa waktu lalu, beredar kabar beberapa orang justru terdeteksi positif Covid-19.
Ternyata, hal ini bisa saja terjadi. Pasalnya, setelah vaksin disuntikkan, tubuh manusia membutuhkan waktu untuk membentuk antibodi. Terlebih jika vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan seperti vaksin Coronavac buatan Sinovac, China.
Dokter spesialis paru Universitas Sebelas Maret, Solo, dr. Tonang Dwi Ardianto. Sp.P (K). PhD., mengatakan itu sebabnya orang yang divaksinasi masih berpotensi positif Covid-19. Dan bisa saja saat proses penyuntikan vaksin dilakukan, orang tersebut sebenarnya sudah terinfeksi virus corona sebelumnya, hanya belum bergejala.
"Saya contohkan, Senin kita vaksinasi, kok Kamis atau Jumat sudah positif? Itu karena memang saat proses penyuntikan, tubuh sudah kemasukan virus. Bukan dari vaksinnya. (Tapi) memang saat itu antibodi dari vaksin belum tinggi, dan belum bisa memberi proteksi," jelas dokter Tonang dalam Webinar virtual KPCPEN, Selasa (26/1/2021).
Ia menerangkan bahwa masa inkubasi infeksi Covid-19 selama 1 sampai 14 hari. Sehingga, saat pertama kali terpapar virus corona, seseorang belum tentu langsung bergejala. Menurutnya, paling banyak gejala Covid-19 baru muncul pada hari kelima masa inkubasi.
Dokter Tonang juga menjelaskan bahwa sesuai dengan penelitian yang dilakukan, vaksin Covid-19 sebenarnya belum bisa untuk mencegah penularan virus corona. Vaksin hanya meringankan gejala yang bisa dialami pasien, karena itulah peran dari antibodi yang terbentuk.
Meski demikian, dibutuhkan waktu bagi tubuh mengenali cairan vaksin yang dimasukan dan untuk membentuk antibodi. Butuh waktu sampai vaksin bisa mencapai efek proteksi yang diharapkan, sehingga setelah vaksinasi kita harus tetap disiplin,demikian dikatakan dokter Tonang.
Dijelaskan juga bahwa kemungkinan antibodi dari vaksin dengan virus yang dilemahkan baru terbentuk pada hari ke-12.
"Vaksin disuntikkan pertama, tubuh membutuhkan waktu untuk pengenalan awal. Kemudian perlahan baru antibodi mulai muncul pelan sekali. Kemungkinan pada hari ke-12 baru produksi antibodi mulai ada sedikit. Berfungsinya masih jauh dari garis batas harapan. Kemudian disusul pada suntikan kedua hari ke-14, setelah itu baru segera naik (antibodinya)," paparnya.
Baca Juga: Update 27 Januari: RSD Wisma Atlet Rawat 3.785 Pasien Positif Corona
Perkembangan antibodi dari vaksin dengan antibodi alami dari infeksi punya waktu yang berbeda. Dokter Tonang mengatakan, antibodi yang terbentuk dari infeksi alami memang lebih cepat terbentuk karena virus yang masuk ke dalam tubuh masih hidup.
"Orang yang terkena infeksi virus itu memang antibodinya langsung naik sendiri, karena virusnya itu hidup dan berkembang biak. Maka begitu kena infeksi, imunitas kuat mampu melawan, maka antibodinya akan naik sendiri. Tapi kalau vaksin ini kan virus dimatikan, jadi begitu dimasukkan, dikenali, butuh respon," paparnya.
Barulah setelah suntikan kedua, 14 hari pasca vaksinasi pertama, antibodi akan terbentuk dengan pesat.
"Suntikan kedua inilah yang membuat prototipe segera mencetak antibodi dan cepat meninggi sampai hari ke-28. Harapannya bisa memiliki efek proteksi," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak