Suara.com - Vaksinasi Covid-19 menjadi harapan untuk mengakhiri pandemi yang kini tengah berlangsung. Sejumlah negara juga telah memulai program vaksinasi tersebut.
Tapi benarkah vaksin bisa menghilangkan seutuhnya virus corona SARS CoV 2?
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubari Djoerban mengatakan menghilangkan virus mungkin akan sulit, namun vaksin mampu mengubah Covid-19 selayaknya penyakit flu musiman yang melanda dunia.
"Dengan vaksin, dunia itu bisa mengubah Covid-19 menjadi penyakit yang mirip flu musiman. Ya, virus korona mungkin masih ada dan menginfeksi orang. Tapi vaksin dapat membuat Covid-19 tak lagi menyebabkan rumah sakit penuh dan kewalahan," ujar Prof. Zubairi melalui cuitannya dikutip suara.com, Sabtu (6/2/2021).
Mengubah Covid-19 seperti flu musiman bisa terwujud melalui vaksin, karena sudah terbukti berdasarkan sejarah. Sehingga meski herd immunity belum terbentuk dan virus belum hilang, namun vaksin bisa membuat sakit Covid-19 tidak menimbulkan gejala parah, dan tidak lagi menyebabkan kematian.
"Nah, yang jadi diskursus harusnya bukan melulu vaksin membentuk herd immunity. Itu belakangan. Yang krusial adalah vaksin mencegah orang tidak sakit parah hingga butuh perawatan di rumah sakit," terang Prof. Zubairi.
Ia kemudian mencontohkan vaksin Covid-19 buatan Johnson & Johnson, yang berdasarkan uji klinis 85 persen mampu melindungi dari Covid-19. Hasilnya orang yang menerima vaksin ini tidak ada satu pun yang harus menjalani perawatan di rumh sakit.
"Tentunya ada uji vaksin lain dengan hasil beda," tuturnya.
Namun selama jumlah orang yang disuntik vaksin Covid-19 lebih sedikit dibanding yang belum menerima vaksin alias masih sedikit yang memiliki kekebalan dari Covid-19, maka protokol kesehatan harus tetep dijalankan.
Baca Juga: DPR : Setahun Hadapi Covid-19, Semua Elemen Bangsa harus Berpadu
Tidak lupa 3T, tracing, testing dan treatment juga harus ditingkatkan dan ini tugas pemerintah untuk memenuhinya.
"Bukan berarti sudah melaksanakan vaksinasi, merasa sudah kembali ke kehidupan pra-pandemi. Itu salah," tutup Prof. Zubairi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius