Suara.com - Sebagian orang mungkin memiliki kebiasaan membaca selama buang air besar (BAB) di toilet, baik membaca koran, majalah atau bermain handphone.
Kebiasaan ini pastinya membuat mereka akan menghabiskan waktu jauh lebih lama daripada hanya sekadar BAB.
Padahal berlama-lama mendekam di toilet sambil membaca surat kabar atau bermain ponsel dalam waktu lama juga tidak dianjurkan. Berikut ini dilansir dari Bright Side, 6 alasan seharusnya Anda tidak membawa ponsel atau apapun ke toilet ketika BAB.
1. Telepon bisa menjadi tempat kuman berkembang biak
Kuman yang tertinggal di dalam toilet bisa berpindah ke permukaan ponsel, baik kuman yang ada di permukaan kloset, tempat alat mandi maupun area pribadi ketika Anda menyeka atau membasuhnya.
Penelitian telah menunjukkan bahwa ponsel bertanggung jawab untuk menyebarkan kuman lebih banyak di lingkungan.
2. Wasir dan masalah dubur lainnya
Menurut dokter, duduk selama 1 hingga 15 menit di toilet adalah hal yang biasa. Tapi, lebih lama di toilet bisa memberikan tekanan yang tak diperlukan pada rektum Anda. Wasir juga salah satu gejala paling serius yang diikuti oleh prolaps rektal.
Dalam kasus terakhir, rektum Anda mulai keluar dari tempatnya. Dokter biasanya tidak menganggap kondisi ini sebagai keadaan darurat, kecuali Anda mengabaikannya.
Baca Juga: Orang Pakai Kacamata 3 Kali Berisiko Kecil Tertular Virus Corona, Kok Bisa?
3. Anda tidak perlu melatih fokus di toilet
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan lebih fokus membaca atau bermain ponsel selama di toilet. Faktanya, ponsel bisa membuat otak Anda dalam mode stres.
Jika Anda perlu istirahat di siang hari, cobalah bermeditasi atau melakukan beberapa latihan. Saat tubuh Anda aktif, maka Anda juga akan mengaktifkan otak.
Jika meditasi bukan keahlian Anda, cobalah membaca buku untuk membuat Anda tetap fokus dan tidak tertarik dengan ponsel.
4. Berusaha melarikan diri dengan memanfaatkan waktu BAB
Studi tahun 2016 juga menemukan bahwa banyak peserta menggunakan ponsel untuk menekan perasaan dan emosi negatifnya.
Selain itu, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa orang menggunakan ponsel untuk melawan kebosanannya.
Akibatnya, mereka tanpa sadar menggunakan ponsel terus-menerus sebagai strategi penanggulangan yang bisa berdampak parah pada kesehatan mentalnya, terutama penggunaan ponsel di toilet.
5. Membuang waktu
Menurut penelitian, rata-rata orang menghabiskan waktu 90 menit per hari menggunakan ponsel, yaitu sekitar 3,9 tahun seumur hidup. Artinya, ponsel bisa mengalihkan perhatian kita dari pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
6. Kecanduan bermain ponsel
Salah satu dari 3 gejala utama kecanduan ponsel adalah rasa takut meninggalkan rumah tanpa ponsel. Sedangkan, gejala lainnya termasuk tidak bisa mengirim atau menerima teks dan perasaan salah.
Meskipun banyak ilmuwan masih tidak mau menggunakan kata kecanduan ponsel, ada indikasi bahwa kondisi itu yang sedang terjadi.
Sedangkan kecandungan ponsel terkait dengan transmisi dopamin. Ponsel memberikan pengalaman menyenangkan yang sama, seperti pengguna merasa senang setiap kali interaksi dengan seseorang.
Sementara, sisi negatif kecanduan dan penggunaan ponsel yang berlebihan termasuk harga diri yang rendah, kecemasan dan depresi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak