Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa miliaran orang diperkirakan akan mengalami gangguan pendengaran pada tahun 2050 mendatang.
Sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia atau sekitar 1 dari 4 orang akan alami gangguan pendengaran pada 2050 nanti. Karena itu, WHO menyerukan metode pencegahan dan pengobatan terbaik di seluruh dunia.
Di sebagian besar negara, perawatan telinga dan pendengaran memang masih belum terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional.
Lalu, mengakses layanan perawatan medis merupakan tantangan bagi mereka yang menderita masalah telinga dan gangguan pendengaran.
Selain itu, akses ke perawatan telinga dan pendengaran tidak didengarkan dan didokumentasikan dengan baik. Sehingga indikator yang tidak relevan tidak tersedia dan sistem informasi kesehatan kurang mendalam.
WHO telah mencatat bahwa kurangnya akses ke perawatan medis, terutama di negara berpenghasilan rendah menunjukkan bahwa kondisi ini berkontribusi besar pada masalah kesehatan pendengaran.
Misalnya di negara berpenghasilan rendah sekitar 78 persen memiliki kurang dari 1 spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT) per satu juta penduduk.
"Bahkan di negara dengan proporsi profesional perawatan telinga dan pendengaran yang relatif tinggi, terdapat distribusi spesialis yang tidak merata," kata WHO dikutip dari Fox News.
Hal ini tidak hanya menjadi tantangan bagi semua orang yang membutuhkan perawatan medis telinga, tetapi juga pemerintah.
Baca Juga: Antisipasi Virus Corona B117, Warga Bekasi Diminta Terapkan Prokes
Kehilangan pendengaran atau gangguan pendengaran bisa dicegah dengan strategi intervensi yang lebih baik. Misalnya pada anak-anak, hampir 60 persen gangguan pendengaran bisa dicegah melalui vaksinasi tertentu dan peningkatan perawatan ibu dan bayinya.
Perawatan medis dan bedah dapat menyembuhkan sebagian besar penyakit yang menyebabkan gangguan pendengaran.
Tapi, jika gangguan pendengaran tidak bissa disembuhkan, rehabilitasi juga pilihan yang terbaik untuk mencegah dampaknya.
"Anda bisa memanfaatkan teknologi pendengaran, seperti alat bantu dengar, implan koklea jika dilengkapi dengan kayanan medis dukungan tepat. Tapi, terapi rehabilitasi lebih efektif dan hemat biaya," jelasnya.
Jika masalah gangguan pendengaran ini diabaikan, jumlah orang menderita penyakit ini bisa meningkat lebih dari 1,5 kali lipat selama 3 tahun mendatang atau 2,5 miliar orang.
Dalam konteksnya, sekitar 1,6 miliar orang yang menderita gangguan pendengaran pada 2019. Sekitar 700 juta dari 2,5 miliar kemungkinan akan membutuhkan perawatan medis untuk gangguan pendengarannya.
"Jadi, tindakan tepat waktu diperlukan untuk mencegah dan mengatasi gangguan pendengaran sepanjang hidup," jelas WHO.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien