Suara.com - Kondisi fisik seseorang bisa mempengaruhi efektivitas vaksin Covid-19. Terutama pada orang lanjut usia, efektivitas vaksin bisa menurun disebabkan adanya perubahan fungsi organ seiring pertambahan usia.
"Ada beberapa kondisi yang mempengaruhi aktivitas vaksinasi pada lansia. Jadi perubahan fungsi organ tubuh akibat proses menua itu menyebabkan imunitas terganggu," jelas Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) prof. dr. Siti Setiati, Sp.PD., dalam webinar bersama Entrasol, Minggu (7/3/2021).
Selain itu, berbagai penyakit penyerta atau komorbid yang telah dimiliki lansia juga bisa pengaruhi kerja vaksin.
Menurut dokter Siti, sekitar 44 persen lansia di Indonesia memiliki komorbid lebih dari satu. Kondisi itu tentu membuat lansia juga harus mengonsumsi banyak jenis obat.
"Banyaknya obat yang dikonsumsi dan malnutrisi, kekurangan gizi, aktivitas fisik yang rendah jadi banyak hanya duduk saja, mobilitas menurun, ini adalah faktor yang mempengaruhi efektivitas vaksinasi pada lansia," ucapnya.
Jika efektivitas vaksin menurun maka risiko lansia untuk terinfeksi virus jadi tetap tinggi.
Dokter Siti menyampaikan, berdasarkan penelitian kohort, yang juga ia terlibat di dalamnya, terhadap vaksin pneumonia pada lansia ditemukan bahwa 20 persen orang tetap terinfeksi walaupun sudah mendapatkan vaksin.
"Penelitian pada 100 lansia 60 tahun ke atas yang dirawat, vaksinnya penuh. Kita ikuti selama enam bulan. Ternyata setelah enam bulan vaksinasi tetap ada 20 persen yang mengalami pneumonia setelah vaksinasi. Dan ternyata faktor yang penting setelah kami analisis adalah status nutrisi yang kurang," kata dokter Siti.
Ia menjelaskan bahwa lansia yang kekurangan gizi menyebabkan sistem imunnya menurun. Sehingga juga mempengaruhi kerja vaksin. Akibatnya infeksi juga dapat tetap terjadi.
Baca Juga: Catat! Vaksin Covid-19 Wajib Diganti Jika Terjadi Hal Ini
"Terbukti bahwa mereka kemudian mengalami infeksi ulang. Memang sangat penting status nutrisi yang baik harus diperhatikan, harus dipenuhi," ucapnya.
Berita Terkait
-
BGN Wajibkan Pemantauan Limbah MBG Tiap Tiga Bulan, Tekankan Aspek Lingkungan dan Higienitas
-
Cerita dari Panti Jompo Mandalika, Para Lansia Berlebaran Tanpa Keluarga
-
Usai PLN 'Dirujak', Masalah Meteran Pasangan Lansia Dicabut Berakhir Bahagia
-
Membangun Benteng Kesehatan Keluarga: Pentingnya Vaksinasi dari Anak hingga Dewasa
-
Imbas Lele Mentah Pada Menu MBG yang Viral, BGN Hentikan Sementara Dapur SPPG di Pamekasan
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal