Suara.com - Penggunaan plasma darah dari mantan pasien Covid-19 memang sudah menjadi salah satu perawatan untuk pasien Covid-19. Sayangnya, penemuan baru menunjukkan bahwa pera perawatan dengan plasma ini tidak efektif bagi pasien yang dirawat di rumah sakit.
Melansir dari Independent, temuan ini didasarkan pada uji klinis yang melibatkan 11.500 pasien NHS Inggris. Hasil ini membuat otoritas kesehatan Inggrs tak lagi menyarankan plasma darah sebagai perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit.
Sebelumnya plasma yang diambil dari mantan pasien Covid-19 diperkirakan akan memiliki antibodi terhadap virus Covid-19. Hal ini yang kemudian akan membantu Anda melawan infeksi pada pasien lain.
“Sejumlah besar pasien di seluruh dunia telah menerima plasma penyembuhan dengan harapan dapat meningkatkan hasil klinis mereka," kata Profesor Martin Landray, Universitas Oxford dan kepala peneliti bersama untuk penelitian tersebut.
"Untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, sekarang jelas bahwa harapan itu tidak diwujudkan menjadi kenyataan. Inilah alasan kami melakukan uji coba secara acak untuk mengetahui hasilnya," imbuhnya.
Dalam temuan terbarunya, antara 28 Mei hingga 15 Januari, 11.500 pasien secara acak dialokasikan ke dua kelompok. Satu kelompok menerima plasma penyembuhan dan yang lainnya mendapatkan perawatan standar.
Ditemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam mortalitas 28 hari antara kedua kelompok dengan 24 persen pasien meninggal dalam 28 hari.
Penggunaan plasma juga tidak berdampak pada proporsi pasien yang dipulangkan dari rumah sakit dalam 28 hari juga tidak berdampak pada pencegahan pasien yang membutuhkan ventilator.
Dengan temuan ini, NHS mengimbau agar para dokter mengetahui temuan ini dan tak lagi memberikan perawatan berbasis plasma. Peringatan ke rumah sakit dikirimkan oleh NHS sejak Rabu (17/3/2021).
Baca Juga: Kasus Covid-19 Meroket, 16 Kota di Prancis kembali Terapkan Lockdown
Uji coba ini berasal dari uji coba RECOVERY. Sebuah uji klinis terbesar di dunia untuk pengobatan Covid-19 di Inggris. RECOVERY kini telah berkembang secara internasional di mana Indonesia dan Nepal sebagai salah satu negara pertama yang bergabung.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya