Suara.com - Menunjukkan dedikasi kepada perusahaan dengan bekerja keras memang baik, tapi bukan berarti jadi tidak memperhatikan kesehatan dengan terlalu banyak melakukan lembur.
Sebuah studi terbaru yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional menemukan bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu telah menewaskan 745.194 orang pada 2016.
Ini adalah studi pertama yang menganalisis risiko kesehatan yang dihubungkan dengan panjangnya durasi jam kerja, mengutip Insider, Rabu (19/5/2021).
Hasilnya peneliti mendapati sebanyak 745.194 orang meninggal karena stroke atau sakit jantung, yang berkaitan erat dengan bekerja selama 55 jam dalam seminggu pada tahun 2016. Angka ini naik 29 persen dibanding tahun 2000.
"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu adalah bahaya kesehatan yang serius," ujar Dr. Meira Neira, Direktur Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatah WHO dalam keterangan persnya.
Mirisnya, mayoritas kematian 72 persen dialami laki-laki yang tinggal di kawasan Pasifik Barat dan Asia Tenggara.
Studi juga menunjukkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu meningkatkan 35 persen risiko stroke, dan kematian akibat sakit jantung istemik 17 persen lebih berisiko dibandingkan pada mereka yang bekerja hanya 35 hingga 40 jam per minggu.
Menurut Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Ghebreyesus, tren bekerja dari rumah juga berkontribusi meningkatnya kematian dini akibat terlalu banyak lembur. Ini kareja makin banyak orang yang tidak bisa membedakan antara rumah dan kantor.
"Selain itu, banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan dana operasional untuk menghemat pengeluaran, dan akhirnya orang masih dengan gaji sama bekerja berjam-jam lebih lama," tukas Ghebreyesus.
Baca Juga: Susah Konsentrasi Setelah Begadang, Ini 4 Tips Menyiasatinya
Berita Terkait
-
Fenomena Gen Z Rela Kerja Lembur Demi Bisa Berlibur, Tren yang Sepadan?
-
Makan Enak Sekarang, Pendek Umur Kemudian? Bahaya Makanan Ultra Proses Terungkap!
-
Diusir Istri? 4 Mobil Bekas Bagasi Luas di Bawah Rp80 Juta Ini Bisa Jadi 'Rumah' Darurat
-
Tips Atasi Lelah Akibat Lembur dengan Suplemen Herbal, Punya Kandungan Ginseng Hingga Temulawak
-
Ketika Lembur Dianggap Loyal, Krisis Diam-Diam Dunia Kerja
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi