Suara.com - Kebijakan pemerintah dalam menerapkan gas dan rem dalam penanganan Covid-19 dikritik dan dianggap tidak efektif.
Kata Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia atau IAKMI - Hermawan Saputra, konsep gas rem tidak akan bisa mengeluarkan Indonesia dari kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang.
"Kebijakan rem-gas, rem-gas itu adalah kebijakan yang terkatung-katung. Hanya membuat kita menunda waktu saja karena tidak mampu memutus mata rantai Covid. Tidak mungkin kita memenangkan dua-duanya, kesehatan kembali pulih dan ekonomi kembali pulih," katanya dalam acara webinar bersama Lapor Covid, Minggu (20/6/2021).
Hermawan mengatakan, pemerintah perlu menentukan aspek prioritas dan memiliki inisiatif agar mampu memutus mata rantai penularan Covid-19.
Melihat kondisi yang terjadi saat ini, ia menyarankan pemerintah berani membuat sikap radikal dengan memberlakukan lockdown atau PSBB total secara nasional.
"Negara yang mayoritas sudah memutus mata rantai juga lakukan lockdown," ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih berada dalam gelombang pertama paparan Covid-19. Kondisi itu terlihat dari positivity rate yang masih di atas 10 persen sejak awal pandemi.
Selain itu insidensi angka harian juga masih ribuan bahkan di atas 10.000 dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan penelusuran para epidemiologi terkait tracing, testing, dan treatment (3T) yang dilakukan selama 15 bulan terakhir, Hermawan menyampaikan masih belum cukup.
Baca Juga: Catat Nih, Mau ke Bogor Wajib Bawa Surat Bebas Covid-19!
Tindakan testing dan tracing masih sekitar 100.000 spesimen per hari dengan hanya 40 sampai 60 persen laboratorium yang berfungsi dengan baik dan melaporkan laporan harian kasus positif secara nasional.
Faktor lainnya yakni terkait dengan lambatnya program vaksinasi Covid-19 dan kejenuhan masyarakat dalam situasi pandemi. Menurut Hermawan, meskipun masyarakat sudah lebih paham terkait informasi Covid-19 tetapi tidak didukung dengan sikap dalam pencegahan infeksi.
"Jadi semua indikator menunjukkan kita masih di gelombang pertama. Masih jauh dari kata terkendali. Mudah-mudahan kita masih bisa menemukan puncak kasus. Karena sejujurnya kita belum pada puncak kasus juga lereng tanjakan masih jauh," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan