Suara.com - Pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung hingga hari ini bukan hanya berdampak pada fisik, tapi juga psikologis anak.
Peruabahan kehdiupan yang serba tiba-tiba dan mendadak selama pandemi, membuat anak mesti terus beradaptasi dan hidup dalam ketidakpastikan. Kondisi tersebut yang menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja,
Gisella Tani Pratiwi, M. Psi., berdampak pada psikologis anak.
"Khusus pada remaja, karena kemudian harus berubah bagaimana berteman, dan berinteraski dan mengembangkan potensi dirinya," kata Gisella dalam Webinar yang diadakan oleh Yayasan Del, Kamis, (12/8/2021).
Ia mengatakan bahwa banyak anak remaja yang mengalami gangguan psikosomatis dan sakit kepala. Menurut Gisella mereka cemas karena kondisi sekolah dan ketidakpastian yang ada
"Kemudian ada yang jadi sangat menutup diri karena kegiatan online, ataupun kegaitan hobi lainnya, dan jadi rentan kesehatan mental keseluruhannya," kata dia.
Gisella melanjutkan bahwa yang paling rentan ialah ketika lingkungan di sekitar juga tidak mendukung bahkan bermasalah.
"Misal relasinya bermasalah dalam keluarga atau anak mengalami kondisi khusus, itu membuat mereka rentan," kata Gisella.
Untuk itu peran orangtua dan orang terdekat penting untuk mendampingi anak melewati situasi tadi. Gisella mengatakan, bahwa penting bagi orangtua mengenali respon emosi termasuk pola pikirnya.
"Jadi di dalam pandemi ini apa yang kamu temukan cukup oke, ketika menghadapi situasi suit responnya seperti apa dari situ akan keliatan dia bagaimana menghadapi masalah," kata Gisella.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Melonjak di 6 Provinsi Luar Jawa, Termasuk Sumatera Barat
Kemudian, bantu anak mengenali merawat kesehatan mentalnya. Gisella melanjutkan bahwa orangtua mesti mampu mendukung anak bisa melakukan selfcare, dan mencari kegiatan yang membuat mereka nyaman.
"Saya sangat setuju sekali, keliatannya remaja (tidak ada beban), ternyata pressurenya banyak dan itu mempengaruh perkembangan dan dewasa," kata dia.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa perlu membantu anak mengenali hal baik dalam dirinya termasuk juga hobi. Kasih mereka kesempatan untuk terkoneksi dengan segala hal baik.
"baik itu di kelaurga atau lingkungan sekolah misal dalam pengajaran bukan hanya materi akademik tapi juga menanyakan kabar jadi anak merasa ada koneksi yang genuine." kata Gisella.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
Pilihan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
Terkini
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?