Suara.com - Penelitian baru menunjukkan keamanan vaksin Covid-19. Studi tersebut menunjukkan berbagai efek samping ringan vaksinasi Covid-19 pada ibu hamil.
Melansir dari Insider, penelitian yang diterbitkan pada JAMA Network Open menambah semakin banyak bukti bahwa vaksinasi aman, efektif, dan dapat ditoleransi dengan baik pada kehamilan, dan mengikuti panduan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang merekomendasikan suntikan pada semua wanita hamil.
Penelitian dari UW Medicine di Seattle ini mensurvei lebih dari 17.000 orang yang divaksinasi, 7.770 di antaranya hamil, 6775 di antaranya menyusui, dan sisanya digunakan sebagai kelompok pembanding yang tidak hamil.
Para peneliti ingin melihat bagaimana gejala yang berhubungan dengan suntikan vaksin pada kondisi yang berbeda. Hampir semua peserta, sekitar 90 persen di semua kelompok, mengalami nyeri di tempat suntikan setelah setiap dosis.
Tapi efek samping lain kurang umum di antara pasien hamil. Misalnya, 45 persen dari semua peserta melaporkan demam setelah dosis pertama, tetapi persentase itu menyusut menjadi 30 persen pada perempuan hamil.
Beberapa ibu hamil mengkhawatirkan demam terkait vaksin selama kehamilan, karena demam yang tinggi dan terus-menerus dapat berbahaya pada trimester pertama. Namun, American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan untuk mengonsumsi Tylenol jika demam muncul.
Peserta penelitian yang hamil juga cenderung tidak mengalami kelelahan, nyeri tubuh, sakit kepala, dan kedinginan setelah suntikan.
Ibu menyusui umumnya melaporkan efek samping yang lebih sedikit daripada kelompok kontrol, tetapi lebih banyak daripada kelompok hamil.
Tidak jelas apakah kehamilan memberikan semacam efek perlindungan terhadap efek samping vaksin. Ada kemungkinan beberapa ibu hamil mengaitkan malaise atau rasa lelah mereka dengan kehamilan, bukan vaksin.
Baca Juga: Cara Cek Stok Vaksin Online, Klik vaksin.kemkes.go.id
Tetapi laporan tersebut menggarisbawahi bahwa perempuan hamil tampaknya tidak memiliki peningkatan risiko hasil negatif meskipun uji klinis masih berlangsung.
"Orang hamil melakukannya dengan baik dengan vaksin," kata penulis utama Dr. Alisa Kachikis dalam rilis berita.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion