Suara.com - Para ilmuwan mengumumkan bahwa parasit malaria, Plasmodium falciparum, di Afrika mulai resisten terhadap obat yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni Artemisinin Combination Therapy (ACT), Senin (27/9/2021).
WHO menyetujui regimen kombinasi obat ACT yang terdiri atas artemether dan lumefantrine, artesunate dan amodiaquine, dihydroartemisinin dan piperaquine, dan artesunate, sulfadoxine, dan pyrimethamine.
Sebuah studi baru yang terbit dalam New Egland Journal of Medicine menunjukkan penurunan obat dalam merawat penderita malaria, lapor The Guardian Nigeria.
Penelitian yang dilakukan di Uganda dari 2017 hingga 2019 ini menunjukkan perlu lebih dari lima jam untuk menghilangkan setengah Plasmodium falciparum yang menginfeksi 14 pasien malaria. Padahal, umumnya pengobatan artesunate hanya perlu beberapa jam untuk menghilangkan setengah parasit.
Penurunan kemampuan yang memenuhi definisi resistensi WHO itulah yang membuat ilmuwan berpikir parasit telah kebal terhadap pengobatan ACT.
Sebenarnya, tanda resistensi sudah lama terlihat di benua tersebut. Misalnya, di Rwanda pada 2012 hingga 2015, para ilmuwan mendeteksi adanya mutasi gen terkait resistensi parasit malaria.
Gejala resistensi terhadap artemisinin dan obat lainnya juga muncul di Kamboja pada awal 2000-an. Beberapa tahun kemudian, parasit malaria di Asia Tenggara mulai kebal terhadap beberapa obat ACT.
Hal itu membuat beberapa kombinasi obat paling efektif tidak berguna lagi di wilayah tersebut dan membuat pemerintah kesehatan setempat mencari obat kombinasi yang manjur.
"Kita semua sudah memperkirakannya dan menjadi takut akan hal itu selama beberapa waktu," jelas ahli biokimia Leann Tilley dari University of Melbourne, Australia.
Baca Juga: Dokter Penemu Terapi Sel Punca Pengobatan Covid-19 Naik Pangkat Luar Biasa
Tilley juga menyatakan keprihatinannya atas perkembangan baru di Afrika, menggambarkan kondisi itu sebagai hal mengerikan. Sebab, lebih dari 90 persen kasus malaria dan kematian di seluruh dunia terjadi di benua tersebut.
Para ilmuwan khawatir skenario di Asia Tenggara juga akan terjadi di Afrika. Terlebih kurangnya akses ke fasilitas kesehatan memadai di banyak bagian Afrika Sub-Sahara. Masalah ini dapat menimbulkan banyak korban.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa