Suara.com - Olahraga bisa memberikan banyak manfaat kesehatan fisik dan mental. Sebuah penelitian juga menunjukkan olahraga bisa menurunkan risiko terkena kanker payudara.
Menurut Klinik Cleveland, satu penelitian menunjukkan bahwa peningkatan olahraga dan penurunan lemak tubuh bisa menurunkan risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.
Temuan yang dipublikasikan di JAMA Oncology pada tahun 2015, yang melibatkan uji coba acak selama 12 bulan menemukan bahwa olahraga sedang hingga berat 300 menit per minggu lebih efektif daripada 150 menit per minggu dalam mengurangi lemak total di antara wanita pascamenopause.
"Hasil ini menunjukkan manfaat tambahan dari latihan aerobik volume dan kemungkinan risiko kanker payudara pascamenopause yang lebih rendah," tulis studi dikutip dari Fox News.
Klinik Cleveland juga menambahkan bahwa pengurangan lemak tubuh mungkin berperan dalam mengurangi risiko kanker payudara.
Di sisi lain, National Cancer Institute telah mencatat bahwa wanita yang aktif secara fisik memiliki risiko kanker payudara yang lebih rendah sebesar 12-21 persen dibandingkan mereka yang tidak aktif secara fisik.
Para peneliti setuju bahwa menjaga berat badan yang sehat adalah kunci untuk menurunkan risiko kanker payudara.
"Kebanyakan orang dewasa sehat harus melakukan setidaknya 150 menit seminggu aktivitas aerobik sedang atau 75 menit aktivitas aerobik yang kuat setiap minggu, ditambah latihan kekuatan setidaknya 2 kali seminggu," kata Mayo Clinic.
Selain itu, Mayo Clinic juga mengatakan nutrisi pun tur membantu menurunkan risiko kanker payudara. Tapi, mereka mengaitkannya dengan pola diet Mediterania.
Baca Juga: PON Papua: Basket Putri Jawa Timur Rengkuh Emas usai Tekuk Bali
Pola diet Mediterania yang dilengkapi minyak zaitun ekstra-virgin dan kacang-kacangan campuran mungkin memiliki penurunan risiko kanker payudara.
Sebagian besar diet Mediterania biasanya fokus pada makanan nabati, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Selain itu, orang yang menjalani pola diet ini juga memilih mengonsumsi lemak sehat, seperti minyak zaitun daripada mentega dan ikan daripada daging merah.
Perubahan gaya hidup lain yang menurunkan risiko kanker payudara, termasuk membatasi minum alkohol, menyusui dan membatasi terapi hormon pascamenopause.
Secara keseluruhan, Mayo Clinic menyarankan semua wanita untuk mewaspadai kanker payudara dan melakukan deteksi sendiri. Jika Anda merasakan adanya perubahan di sekitar payudara, segera konsultasikan dengan dokter.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak