Suara.com - Banyak orang yang selamat dari infeksi virus corona Covid-19 mengalami kondisi kesehatan lain yang dikenal long Covid.
Kondisi ini terlepas dari tingkat keparahan awal infeksi SARS-CoV-2, tetapi lebih sering terjadi pada wanita, paruh baya, dan orang yang mengalami banyak gejala saat terinfeksi.
Meski gejala long Covid tidak mengancam jiwa, sebuah penelitian yang terbit pada April 2021 di jurnal Nature menunjukkan penderita mengalami 59% peningkatan kematian dalam waktu enam bulan.
Artinya, ada 8 kematian per 1.000 penyintas Covid-19. Menambah jumlah korban tersembunyi selama pandemi virus corona, lapor Channel News Asia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan gejala long Covid biasanya menyerang penyintas tiga bulan setelah infeksi dengan gejala yang terjadi selama minimal dua bulan serta kondisin yang tidak dapat dijelaskan.
Gejala umum long Covid meliputi kelelahan, sesak napas serta tidak berfungsinya kemampuan kognitif. Gejala juga bisa kambuh dari waktu ke waktu.
WHO mengatakan pengetahuan ini dapat berubah ketika bukti baru muncul, dan informasi terpisah mungkin diperlukan untuk anak-anak.
Meski pandemi sudah terjadi selama hampir dua tahun, peneliti belum mendapat banyak data tentang apa saja efeknya, berapa jumlah pasien yang menderita atau untuk berapa lama terjadinya.
Berbagai penelitian mencatat 10 hingga 20% orang mengalami gejala menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah infeksi.
Baca Juga: Antisipasi Klaster COVID-19 di PON, Pemprov DKI Siapkan Lokasi Isolasi Bagi Atlet
Tetapi, Covid-19 belum tentu menjadi penyebab utama dari masalah kesehatan ini.
Sebuah studi besar yang terbit di BMJ pada Mei lalu menemukan 14% orang yang dulunya terinfeksi virus corona mengalami satu atau lebih komplikasi terkait (long Covid) yang memerlukan perawatan medis.
Tapi begitu juga pada 9% orang dalam kelompok kontrol dalam studi tersebut. Beberapa gejala mungkin terjadi secara kebetulan atau dipicu oleh stres dan kecemasan.
PPKM, lockdown, bekerja atau belajar di rumah, hilangnya mata pencaharian, hingga penurunan aktivitas ekonomi berpotensi memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Penelitian menemukan pandemi Covid-19 telah mengakibatkan tambahan 53,2 juta kasus gangguan depresi mayor dan tambahan 76,2 juta gangguan kecemasan secara global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!