Suara.com - Kebanyakan wanita setelah melahirkan mengalami masalah kognitif. Masalah kognitif pascapersalinan ini membuat mereka mudah lupa atau kesulitan mengingat nama hingga sebuah cerita.
Dr Charles Siow, seorang ahli saraf di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, menyebutkan fenomena ini sebagai "otak ibu". Kondisi ini menggambarkan masalah kognitif wanita yang baru saja melahirkan, khususnya dalam hal ingatan verbal.
Memori ingatan verbal ini terkait dengan informasi lisan. Menurut Dr Charles, wanita akan mengalami penurunan memori ini selama kehamilannya. Karena itu, wanita yang baru saja melahirkan akan lebih mudah lupa, kesulitan mengingat nama seseorang atau cerita.
Menurut Dr Cornelia Chee, kepala Departemen Kedokteran Psikologi Rumah Sakit Universitas Nasional, ada bukti nyata bahwa otak wanita berubah selama kehamilan dan setelah melahirkan. Perubahan kognitif ini menjadi lebih buruk selama periode yang sama.
Perubahan kognitif ini mungkin berkaitan dengan kurangnya tidur yang dialami wanita selama kehamilan dan pasca melahirkan. Khususnya pada trimester ketiga kehamilan, ibu hamil biasanya mengalami gangguan tidur.
Pada trimester ketiga ini, ibu hamil mulai merasakan ketidaknyamanan ketika tidur, sering pergi ke toilet hingga gerakan janin yang semakin lincah. Setelah melahirkan, wanita juga masih mengalami gangguan tidur karena menyusui dan gangguan makan malam.
Sebuah tinjauan terhadap 20 Penelitian yang melibatkan 700 ibu hamil dan 500 wanita tidak hamil menyimpulkan bahwa fungsi kognitif umum, memori dan fungsi eksekutif secara signifikan lebih buruk pada ibu hamil.
"Tapi, perubahan kognitif ini mungkin hanya terlihat pada ibu hamil dan orang-orang yang berada di dekat mereka. Kecil kemungkinannya mempengaruhi kinerja mereka," kata Dr Siow dikutip dari CNA Lifestyle.
Menurut Dr Nicole Chan, dokter umum di DTAP Clinic, masalah kognitif setelah melahirkan juga dikaitkan dengan perasaan kewalahan, suasana hati yang buruk, kurang tidur atau istirahat dan perubahan hormonal.
Baca Juga: Peneliti: Orang Usia 50 Tahun Hasilkan Antibodi Virus Corona Covid-19 Lebih Tinggi
"Masalah kognitif ini bisa membaik selama beberapa bulan, meskipun terkadang bisa bertahan lebih lama," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya