Suara.com - Ketut adalah aktivitas normal yang mencerminkan tubuh sehat, khususnya jika kentut dikeluarkan sebanyak 5 hingga 15 kali sehari.
Tapi ada beberapa orang yang memiliki kentut bau, dan bisa sangat menganggu orang lain maupun menguras rasa percaya diri. Perlu diketahui, kentut adalah gas yang terdiri dari hidrogen, hidrogen sulfida, karbon dioksida, amonia, dan metana yang secara alami diproduksi di sistem pencernaan.
"Setelah semua gas ini bergabung, akan melewati sistem, dan kadang keluar dengan bau yang tidak sedap," ujar Ahli Gastroenterologi dari Vanguard Gastroenterology, Abhijeet Waghray, mengutip Insider, Selasa (8/3/2022).
Berikut ini 5 penyebab kentut bau yang kerap tidak disadari:
1. Diet
Pola makan atau kebiasaan makan adalah penyebab yang paling umum kentut bau. Salah satunya kebiasaan makan dengan cepat, yang berarti tubuh menelan udara lebih banyak bersamaan dengan makanan. Alhasil ada banyak gas di saluran pencernaan, yang berpotensi menyebabkan ketut bau.
Ada juga makanan tertentu yang menyebabkan kentut bau, seperti makanan kaya serat, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau dan buah-buhan. Ini karena ketika bakteri usus memecah serat, akan melepaskan gabungan gas yang menyebabkan bau kentut.
2. Intoleransi Makanan
Bagi setiap orang, sering kali memiliki makanan tertentu yang sulit dipecah oleh saluran cerna, dan menyebabkan intolerasi makanan. Umumnya, banyak orang mengalami intoleransi laktosa. Sehingga jika seserang tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi enzim yang cukup untuk mencerna laktosa, hasilnya bisa membuat kentut sangat bau.
Baca Juga: 3 Dampak Negatif Membenci Diri Sendiri, Jangan Abai!
3. Sembelit
Kotoran, terutama yang berasal dari serat tidak bisa dicerna tubuh, dan hasilnya tinja atau kotoran di usus besar semakin dalam, bisa 36 jam atau lebih, yang hasilnya bakteri terus bekerja mengolah serat dan mengeluarkan gas atau kentut bau. Solusinya adalah pastikan mengonsumsi air putih yang cukup dan berolahraga. Lalu, segera pergi ke dokter saat sudah tidak buang air minimal 3 kali seminggu.
4. Mengonsumsi Obat
Jika Anda baru saja mengonsumsi obat, lalu tanpa disadari kentut lebih beraroma atau bahkan lebih bau, maka obat bisa jadi penyebabnya. Ini karena banyak obat dan suplemen yang memengaruhi bagaimana makanan bergerak di saluran cerna, bisa lebih cepat dan lebih lambat.
5. Tanda Penyakit Tertentu
Jika dari semua penyebab di atas sudah dicari tahu, tapi tak kunjung menemukan penyebab kentut bau. Maka kentut bau bisa jadi tanda adanya penyakit tertentu, sehingga disarankan bertemu dokter.
"Ada beberapa kasus di mana kentut berbau busuk, yang menandai adanya infeksi usus atau kondisi pencernana yang mendasarinya," ujar Waghray.
Beberapa penyakit harus dicurigai adalah sindrom iritasi usus (IBS), penyakit radang usus atau IBD, kanker usus besar, sindrom dumping, perdarahan usus, dan polip usus besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!