Suara.com - Intoleransi laktosa kerap didakwa sebagai penyebab umum seseorang menderita efek samping tak nyaman setelah mengonsumsi susu. Efek samping yang dimaksud biasanya berupa perasaan mulas, kembung, diare hingga terkadang muntah-muntah.
Namun ternyata, tak semua orang yang mengalami efek samping tak nyaman setelah mengonsumsi susu sapi telah terbukti dan terdiagnosis mengalami intoleransi laktosa.
Hal itu dikatakan oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, SpGKK(K) dalam acara KIN Susu Steril, Selasa (15/3/2022). Dalam kesempatan tersebut, Dokter Fia kemudian mengajak masyarakat membedah komposisi utama dalam susu sapi.
Diketahui, 86 persen lebih komposisi dalam susu sapi adalah air, disusul laktosa dengan 4,8 persen, lemak dengan 4,5 persen, protein 3,5 persen dan vitamin serta mineral sebesar 0,7 persen.
"Ada orang dewasa yang setelah konsumsi susu merasa sakit perut atau diare, kembung atau ingin buang ingin dan hingga disertai muntah. Kenapa begitu? Laktosa ini yang kadang sering menjadi biang kerok dan menjadi penyebab timbulnya gejala," kata Dokter Fia.
Lebih lanjut, Dokter Fia menyebut bahwa gejala tak nyaman tersebut tak melulu disebabkan oleh laktosa melainkan jenis protein yang terkandung dalam susu sapi itu sendiri.
Setidaknya ada dua jenis protein dalam susu sapi, pertama adalah protein kasein dan kedua adalah whey. Secara turunannya, jenis protein betakasein memiliki varian yaitu A1, A2, A3.
Lebih lanjut, susu sapi A1 mengandung protein beta-kasein A1 dengan asam amino histidin, yang terletak pada posisi n 67 dalam rantai protein yang dipecah oleh enzim tubuh menjadi fragmen protein bernama senyawa beta casomorphin (BCM-7). Sementara susu sapi A2 mengandung asam amino prolin.
"Fragmen BCM-7 inilah yang menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada tubuh, diantaranya masalah pencernaan. Satu perbedaan asam amino dalam susu ternyata menyebabkan perbedaan berarti diproses pencernaan dan penyerapan susu dalam. Saat dicerna, kedua jenis susu itu memberikan efek berbeda."
Baca Juga: Kapan Memberikan Susu Formula pada Bayi? Perhatikan Dulu Kondisi Berikut
Lalu, apa saja efek Beta-casomorphin-7 (BCM-7)?
Pertama, BCM-7 adalah komponen bioaktif pada susu A1 yang dapat berfungsi seperti opiat morfin. Kedua, BCM-7 juga dapat melewati pertahanan saluran cerna masuk ke otak dan memblok area tertentu sehingga memengaruhi fungsi otak.
Ketiga, BCM-7 juga berfungsi seperti opiat yang dapat merangsang berbagai reseptor opia pada sistem saraf, hormon, imunitas dan merangsang kelainan saraf seperti autisme dan sizopren.
Lebih lanjut, Dokter Fia juga membagikan dampak negatif protein A1 seperti rasa mual dan kembung (reaksi minum susu), sakit perut, meningkatkan risiko penyakit serius seperti jantung, diabetes type 1, autoimun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya