Suara.com - Memakai masker terutama ketika pergi ke luar rumah menjadi kewajiban di masa pandemi Covid-19. Meski kasus dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan, bukan berarti masker lantas ditinggalkan.
Ketua Umum IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM, mengungkapkan penularan Covid-19 terjadi dari orang ke orang. Karena itu, ketika melakukan ibadah, atau aktivitas sosial, dan melakukan perjalanan idealnya tetap menggunakan masker dengan baik, sebagai perlindungan utama, karena menjaga jarak biasanya cenderung sulit dilakukan.
“Nah, salah satunya menggunakan masker medis 3 lapis gitu ya, kalau setelah itu mau di double dengan kain silahkan saja. Tetapi yang prinsip menggunakan masker dengan baik, harus menutupi hidung dan mulut dengan benar. Kemudian kalau membuka jangan kita menyentuh bagian dalamnya atau bagian luarnya karena disini sudah terkontaminasi bakteri dari kita maupun dari luar.” tegas Ede dikutip dari situs resmi Satgas Covid-19.
Ede menambahkan, ada dua kondisi dimana masyarakat harus melaksanakan tes secara berkala. Pertama, setelah melaksanakan interaksi sosial yang begitu intens, bertemu dengan orang dari berbagai kalangan, karena potensi penularan sangat tinggi walaupun tidak menunjukkan gejala. Kedua, ketika mengalami gejala seperti influenza dan gejala tidak sembuh setelah tiga hari.
“Segera lakukan tes sehingga kondisi kita segera diketahui. Kalau bapak ibu (orang tua) mengalami sakit, bisa sedini mungkin diketahui dan bisa ke pelayanan kesehatan secepatnya. Sehingga mendapatkan pertolongan ketika kondisi tubuh kita masih baik. Ya, kita tentu saja pada kondisi mereka yang punya komorbid itu dua-duanya harus diperiksa komorbidnya diberiksa begitu ada gejala flu yang lama, juga harus dilakukan tes covid sehingga kita bisa lebih cepat mengetahui penyakit kita” tegas Ede.
Ede menambahkan, jika masyarakat melakukan tes mandiri, idealnya tetap melaporkan ke dalam Peduli Lindungi, sehingga harus jujur. Karena, kalau tidak lapor dan jelas positif ataupun reaktif dengan antigen tapi tetap berinteraksi, akan sangat beresiko (menularkan) pada orang lain.
Menurutnya, meski diperbolehkan melakukan tes mandiri, harus diikuti dengan kebijakan yang tepat dari pemerintah terkait pengolahan limbahnya.
“Memang di satu sisi dibolehkan atau dianjurkan tetapi di sisi lain, di Indonesia saat ini kebijakan pemerintah itu belum cukup kuat peraturannya, termasuk peraturan bagaimana pengolahan sampahnya, karena sampahnya itu menjadi beresiko,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang melakukan tes mandiri, sebaiknya tetap mengkonsultasikan pada petugas kesehatan dan harus jujur. Karena, jika hasilnya reaktif atau positif, maka tidak boleh melakukan aktifitas apapun, dan segera isolasi mandiri.
Baca Juga: IDI Lampung Imbau Pemudik Tidak Gunakan Masker Kain saat Mudik Lebaran Idul Fitri 2022
“Penyakit ini (Covid-19) adalah penyakit virus sesuai namanya artinya adalah penyakit virus mudah berubah, yang kita khawatirkan adalah terjadi sebuah mutasi baru kemudian bisa meninggal ini yang kita khawatirkan. Karena pandemi ini masih belum jelas karena masih naik turun karena itulah lebih baik mencegah dari awal,” tutup Ede.
Berita Terkait
-
4 Daily Mask Korea Panthenol, Rahasia Skin Barrier Sehat Setiap Hari
-
5 Rekomendasi Eye Mask Retinol untuk Atasi Kerutan di Sekitar Mata, Pas buat Usia 45-an
-
Simbol X di Masker Warnai Sidang Vonis Laras Faizati di PN Jaksel, Apa Maknanya?
-
3 Masker Gel untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Lebih Segar dan Glowing!
-
5 Rekomendasi Masker Rambut dengan Hasil Bak Keratin di Salon, Auto Lembut dan Berkilau
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga