Suara.com - Banyak dugaan dan hipotesi terkait penyebab hepatitis misterius atau hepatitis akut. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sendiri telah menetapkan kasus hepatitis misterius itu sebagai kejadian luar biasa atau KLB.
Ada dugaan munculnya wabah itu disebabkan oleh long Covid-19. Ini karena dari beberapa temuan kasus di dunia, di mana beberapa pasien hepatitis akut terinfeksi SARS CoV 2 dan Adenovirus 41.
Namun hal ini dibantah Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban. Ia mengatakan anak usia di bawah 16 bulan yang terserang hepatitis misterius sebagian besar tidak memiliki riwayat infeksi Covid-19.
"Tidak (karena long Covid-19). Pasien-pasiennya justru sehat. Di Alabama, dari 9 anak-anak, tak satu pun dari mereka memiliki riwayat infeksi Covid-19, dan tidak menerima vaksin. Dari data juga diketahui bahwa angka kejadian Long Covid-19 pada anak amat jarang," ujar Prof. Zubairi dikutip Suara.com, Sabtu (7/5/2022).
Perlu diketahui, long Covid-19 adalah gejala sisa usai sembuh dari Covid-19. Gejala ini menandai adanya kerusakan pasca infeksi virus SARS CoV 2 yang merusak tubuh maupun organ, padahal virus di dalam tubuh sudah sepenuhnya mati.
Hepatitis adalah penyakit peradangan hati atau liver. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi virus, infeksi cacing hati, kebiasaan minum alkohol, obat-obatan hingga penyakit komorbiditas seperti autoimun.
Ia menambahkan, hal yang sama juga terjadi di Indonesia, bahwa tiga anak yang meninggal di RSCM Jakarta karena hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya, dipastikan negatif Covid-19.
"Di Indonesia, dari tiga kasus, semuanya diketahui negatif Covid-19 dan satu komorbid," ungkapnya.
Begitu juga data di Brasil dan India, bahwa hanya ada sebagian kecil anak yang terinfeksi Covid-19 harus mendapatian pengobatan hepatitis.
Baca Juga: Hepatitis Akut Membuat Cemas, Dokter Ajak Masyarakat Lakukan Pencegahan
"Sebagian besar pasien pulih dengan cepat dalam beberapa hari," timpalnya.
Sementara itu, hepatitis akut misterius menghebohkan dunia karena membuat anak usia di bawah 16 tahun, yang tadinya sehat mendadak sakit dan harus dirawat.
Bahkan beberapa anak tersebut harus mendapatkan transplantasi hati atau liver, agar bisa selamat dan sembuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu
-
2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit