Suara.com - Penyakit hepatitis akut yang kini tengah mewabah masih disebut sebagai penyakit misterius karena belum diketahui penyebab serta cara penularannya.
Dugaan sementara para ahli kesehatan di dunia, penyakit itu disebabkan oleh adenovirus tipe 41.
Lantaran disebabkan virus, pengobatan terhadap penyakit tersebut sebenarnya bersifat penunjang agar sistem imun tetap kuat.
Ahli gastrohepatologi anak DR. Dr. Muzal Kadim, Sp.A(K) menjelaskan, virus penyebab penyakit bisa dilawan dengan kekebalan tubuh sendiri.
"Virus ini sembuhnya sebagian besar oleh kekebalan tubuhnya sendiri. Jadi pengobatan yang diberikan sebetulnya suatu pengobatan yang suportif atau penunjang."
"Misalnya anak ada mual muntah diberikan obat untuk mual muntah kalau diperlukan. Kemudian misalnya demam, diberikan obat demam," paparnya dalam siaran langsung Instagram bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia, Minggu (8/5/2022).
Dokter Muzal mengatakan, hepatitis akut berat ini masih menjadi penyakit unknown etimiologi karena belum diketahui jelas penyebabnya.
"Jadi kebanyakan pengobatannya adalah supportif, penunjang dan itu penting. Kalau untuk hepatitis ini sangat penting penunjang ini. Misalnya kalau kasus yang ringan pasti tirah baring, istirahat, makan cukup, kemudian minum cukup. Kalau demam diberikan obat penurun panas," jelasnya.
"Kalau anaknya sehat, kekebalan baik, itu nanti akan lebih baik dalam proses melawan (virus). Dibandingkan kalau anak misalnya dengan kekebalan yang kurang," imbuh dokter Muzal.
Baca Juga: Dinkes Depok Imbau Masyarakat Waspada Ancaman Penyebaran Hepatitis Akut Misterius
Tetapi, salah satu yang masih jadi misterius dari penyakit tersebut karena kasus hepatitis akut berat kebanyakan terjadi pada anak yang sehat.
Laporan kasus di Inggris menunjukkan, kebanyakan anak yang terinfeksi hepatitis akut tersebut tidak memiliki riwayat imunokompromais atau penurunan kekebalan tubuh.
"Pada anak yang terkena hepatitis akut ini bukan gizi kurang, bukan gizi buruk yang menurunkan sistem imun. Tidak terkena infeksi berat yang lain."
"Anak dalam kondisi yang sehat. Karena itu disebut dengan kejadian luar biasa oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi