Suara.com - Hand sanitizer dipercaya tidak efektif membunuh adenovirus yang diduga menyebabkan masalah kesehatan peradangan hati, hepatitis akut misterius.
Hal ini diungkap Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan.
Kata Harimat, berdasarkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia WHO, pakar lebih merekomendasikan cuci tangan pakai sabun dibanding penggunaan hand sanitizer.
"Baca pedoman WHO lebih disarankan cuci tangan regular, yang saya sampaikan dengan melihat referensi berdasarkan salah satu dokter internasional," ujar Harimat saat agenda Sapa Media BRIN, Kamis (12/5/2022).
Ia menambahkan, efektivitas hand sanitizer juga akan dipengaruhi karakteristik adenovirus yang cenderung lebih bertahan lama di permukaan.
Perlu diketahui, adenovirus diduga jadi salah satu penyebab hepatitis akut potensial yang saat ini mewabah. Dari puluhan kasus hepatitis akut anak di Alabama, Amerika Serikat, beberapa pasien terbukti terinfeksi adenovirus 41.
Meski begitu, Harimat menekankan belum bisa dipastikan adenovirus sebagai satu-satunya penyebab hepatitis akut, karena masih ada dugaan lain termasuk dugaan disebabkan virus SARS CoV 2.
"Alkohol, hand sanitizer tidak bekerja dengan baik menghadapi adenovirus. Jadi artinya dalam hal pencegahan, mungkin kita harus memerhatikan hal-hal seperti ini, jadi cuci tangan dengan air bersih dan kemudian kebersihan tangan harus dipertahankan," terang Harimat.
Walaupun adenovirus dinilai tidak efektif dengan hand sanitizer, menurut Harimat tidak mudah mengubah protokol dan pedoman kesehatan yang sudah ada, sehingga perlu bekerjasama dengan dengan stakeholder terkait.
Baca Juga: Hepatitis Akut Bisa Sembuh Sendiri, Tapi Juga Bisa Menjadi Kanker Hati
"Kita merubah pedoman dengan stakeholder terkait, dengan para pakar, apakah memang harus dirubah atau tidak. Alkohol juga dinyatakan efektif untuk 90 persen jenis kuman dan virus," paparnya.
Selain itu, ia juga mengatakan adenovirus tidak efektif dengan hand sanitizer juga perlu diteliti lebih jauh, yang ditegakan dengan evidence base atau dasar ilmiah dengan subject beragam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?