Suara.com - Selain perempuan, laki-laki juga bisa mengalami fase menopause. Dikenal sebagai andropause, kondisi tersebut dapat ditandai dengan rendahnya kadar testosteron hingga berkurangnya fungsi testis akibat satu dan lain hal.
Namun beberapa ahli keberatan dengan istilah "menopause laki-laki" dan menyebut hal itu menyesatkan. Karena meski kadar testosteron menurun, angka penurunannya stabil kurang dari dua persen per tahun dari sekitar usia 30 hingga 40 tahun. Hal ini, dianggap tidak akan menyebabkan masalah berarti.
Dikutip dari Hindustan Times, testosteron diproduksi di testis dan kelenjar adrenal dan bertanggung jawab untuk berbagai fungsi penting lelaki seperti mengatur libido, produksi sperma dan massa otot, kesehatan tulang serta produksi darah.
Seiring bertambahnya usia lelaki, kadar testosteron cenderung turun selaras dengan kemampuan memproduksi sperma. Tetapi selain penuaan, beberapa faktor gaya hidup atau masalah psikologis juga dapat menyebabkan penurunan kadar testosteron.
Beberapa penyebab lainnya di antaranya:
- Stres, depresi, atau kecemasan
- Perubahan pembuluh darah di samping penyebab psikologis atau apa pun yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi
- Kurang tidur
- Pola makan buruk
- Kurang olahraga
- Terlalu banyak minum alkohol
- Merokok
- Harga diri rendah
- Hipogonadisme onset lambat
Tanda dan Gejala:
Pakar kesehatan menunjukkan bahwa kelelahan, libido yang buruk, kelemahan, depresi, masalah seksual dan kesulitan berkonsentrasi hanyalah beberapa gejala yang mungkin terjadi sebagai akibat dari penurunan kadar testosteron.
Selain itu, berikut adalah tanda dan gejala lainnya:
- Ketajaman mental yang berkurang (konsentrasi yang buruk, suasana hati yang tertekan)
- Kehilangan energi
- Menambah berat badan, kehilangan otot, dan menambah lemak
- Suasana hati yang tertekan dan atau kurangnya semangat dan antusiasme
- Iritabilitas
- Sakit dan nyeri otot (merasa kaku)
- Berkeringat atau hot flushes
- Tangan dan kaki yang dingin
- Gatal
- Disfungsi seksual
- Kehilangan tinggi badan
Diagnosis dan Pengobatan:
Jika Anda mengalami tanda dan gejala tersebut, dokter kemungkinan akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar testosteron atau melakukan tes lain yang mungkin berkontribusi terhadap kondisi tersebut setelah melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan gejalanya.
Jika kadar testosteron terbukti rendah, gaya hidup atau perubahan lain dalam diet, program olahraga atau obat-obatan seperti antidepresan akan diresepkan untuk membantu beberapa gejala.
Terapi penggantian hormon (HRT) atau terapi penggantian testosteron atau terapi penggantian androgen dapat diresepkan untuk membantu meringankan gejala seperti kehilangan minat pada seks (penurunan libido), depresi dan kelelahan.
Baca Juga: Gegara Testosteron Tinggi, Bocah 2 Tahun Ini Sudah Punya Rambut Kemaluan dan Tubuh Berotot
Namun, perlu dicatat bahwa pengobatan tersebut memiliki potensi risiko dan efek samping karena mengganti testosteron dapat memperburuk kanker prostat dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang