Suara.com - Bayi umumnya memang suka memasukkan berbagai hal ke mulut, bukan cuma makanan, tapi juga berbagai benda lain yang ia temukan di sekitarnya. Kebiasaan ini sebenarnya normal, karena bayi sedang berada dalam masa ingin menjelajahi dunia di sekelilingnya. Namun, baru-baru ini hal aneh diungkap seorang ibu yang mengatakan jika anaknya memiliki kebiasaan makan tisu.
Dalam video di akun TikToknya, @ratna_safitri10 mengatakan jika sang anak yang kini sudah balita, mempunyai kebiasaan memakan tisu sejak usianya masih 9 bulan.
Ia juga memperlihatkan bagaimana putri kecilnya itu tampak begitu lahap memasukkan potongan tisu itu ke dalam mulutnya.
"Dari bayi umur 9 bulan sampe sekarang, makan tisu ga bisa diilangin. Dilarang malah ngamuk-ngamuk," katanya.
Bahkan bukan cuma tisu, kata si ibu, anaknya itu juga senang makan kardus, kertas hingga kerikil. Padahal, ia selalu memberi makan anaknya, yang juga lahap memakan nasi 4 kali sehari dan camilan.
Dikutip Alodokter, menelan tisu pada bayi bisa berbahaya, bisa juga tidak. Bila tisu ini tertelan ke saluran pencernaan, dan ukurannya kecil, seringnya hal ini tidaklah berbahaya dan bisa keluar bersama dengan feses saat BAB.
Namun, bila ukurannya besar dan sulit dicerna, maka tisu ini bisa menyumbat saluran pencernaan, dan membuat bayi menjadi sulit BAB, sulit buang angin, perutnya nyeri, dan juga muntah-muntah.
Lebih berbahaya lagi, bila tisu ini terhirup ke saluran napas, sebab bisa memicu radang di paru (pneumonia aspirasi) bahkan sumbatan jalan napas yang bisa membuat bayi batuk-batuk, sesak, kebiruan, bahkan bisa mematikan.
Video ini lantas mendapatkan berbagai tanggapan dari warganet, karena dinilai cukup berbahaya jila dibiarkan terlalu lama. Sampai saat ini, tayangan tersebut telah dilihat lebih dari 133 ribu kali.
Baca Juga: Suami Curhat Ingin Cicil Mobil Tapi Istri Tak Setuju: Gaji Saya 2 Juta, Istri 4 Juta, Kan Cukup....
"Di sini bukan sekedar hanya ngelarang dia nangis ya sudah lanjut makan tisu lagi, tapi harus bisa ngalihin dong, kalau bisa jangan ada tisu di rumah, tisu itu bahaya," ujar @midaxxxxxx.
"Ada coba konsultasi dokter kakak, bahaya lho kakak, kasian anak takutnya berakibat kelambung atau saluran pencernaan," kata @arishxxxxx memperingati.
"Udah dibawa ke dokter belom Bun, kasihan bahaya ga buat lambungnya," tulis @sidexxxxxx.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?