Suara.com - Seorang bocah SD di Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia karena depresI setelah dibully. Bocah tersebut diduga mengalami perundungan dari teman-temannya dengan cara dipaksa menyetubuhi kucing.
Bocah tersebut berinisial F, yang menghembuskan napas terakhirnya di RSUD SMC Tasikmalaya. Perundungan yang dilakukan teman-temannya itu juga direkam dan disebar hingga viral di media sosial.
Hal itu membuat sang bocah kemudian mengalami trauma dan penurunan kondisi psikis. F kemudian depresi atas perundungan tersebut, terlebih aksinya menyetubuhi kucing beredar di media sosial.
Depresi itu membuat korban tidak mau makan. F kemudian mengeluhkan sakit pada tenggorokannya dan dibawa ke rumah sakit, menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit saat menjalani perawatan.
Lantas, seperti apa gejala dan dampak depresi pada seorang anak? Simak informasi lengkapnya berikut ini.
Depresi pada anak bisa membatasi kemampuannya dalam melakukan aktivitas secara normal. Kondisi tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor.
Mulai dari perundungan atau bullying yang terjadi di lingkungannya, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, perceraian orang tua, kematian orang terdekat, hingga gangguan mental seperti bipolar, autisme, atau bahkan OCD.
Secara umum, gejala depresi pada anak sering kali tidak disadari oleh orang-orang disekitarnya. Hal tersebut karena anak belum bisa menyampaikan perasaannya dengan baik. Oleh sebabnya, orang tua harus pandai mencermati perubahan emosi dan perilaku pada anak.
Melansir dari Alodokter, gejala depresi pada anak bisa dibagi menjadi dua aspek yaitu gejala fisik dan gejala mental.
Gejala fisik
Anak yang mengalami depresi bisa memperlihatkan gejala fisik seperti sering sakit kepala, sakit perut, berat badan tidak stabil bahkan menurun, nafsu makan berkurang atau justru bertambah dengan cepat, terlihat letih dan lesu, serta sulit untuk tidur.
Gejala mental
Tidak hanya terlihat dari gejala fisik, anak dengan depresi juga bisa berdampak pada kondisi mentalnya. Beberapa gejala mental yang muncul pada anak yang mengalami depresi di antaranya:
- Tantrum atau mudah mengamuk terlebih pada saat dirinya dikritik
- Terlihat sedih bahkan sampai putus asa
- Tidak mau melakukan aktivitas seperti menyelesaikan tugas-tugas sekolah
- Kehilangan minat dalam melakukan hobi atau aktivitas yang sebelumnya digemari
- Enggan melakukan interaksi atau bergaul dengan teman-teman sebayanya, bahkan dengan keluarganya
- Kehilangan konsentrasi
- Muncul perasaan bersalah dan pikiran untuk menyakiti diri sendiri
- Muncul anggapan bahwa dirinya tidak memiliki nilai atau tidak berharga
- Gelisah dan cemas
Para orang tua harus pintar melakukan pengawasan kepada anak-anaknya terlebih jika menunjukkan gejala seperti yang telah disebutkan di atas. Anak bisa dicurigai mengalami depresi apabila gejala-gejala tersebut berlangsung hingga lebih dari dua minggu dan bisa mengganggu aktivitas anak sehari-hari.
Depresi pada anak ini bisa sangat berbahaya jika dibiarkan semakin parah karena bisa membahayakan nyawanya.
Berita Terkait
-
Belajar dari Kasus Bullying Siswa SD di Tasikmalaya, Psikolog Ingatkan Pentingnya Peka Terhadap Tanda Depresi Anak
-
Terduga Pelaku Perundungan Anak di Tasikmalaya Juga Wajib Diberi Pendampingan Agar Tidak Depresi
-
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua bila Mengetahui Anak Terkena Perundungan?
-
Ketika Anak Dirundung, Bagaimana Orang Tua Harus Bersikap?
-
Desak Polisi Serius Usut Kasus Bocah SD Meninggal Usai Dipaksa Sebutuhi Kucing, KPAI: Bukan Perundungan Biasa
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak