- Indonesia hanya memiliki 60 perawat spesialis onkologi di seluruh wilayah.
- Perawat onkologi krusial dalam menjaga keamanan prosedur kemoterapi yang berisiko tinggi.
- Roche, UI, dan Siloam berkolaborasi mempercepat pelatihan standar keperawatan onkologi.
Suara.com - Indonesia mengalami krisis perawat onkologi di saat jumlah pasien kanker meningkat setiap tahunnya. Data saat ini menunjukkan hanya ada sekitar 60 perawat spesialis onkologi di Tanah Air.
Direktur Access Communications and Health System Values Strategy Roche, Lucia Erniawati mengatakan perawat spesialis onkologi punya peran krusial dalam memastikan keamanan dan kualitas layanan pasien kanker, mulai dari kemoterapi hingga perawatan paliatif.
Inilah sebabnya kata Lucia, pihaknya terus mengembangkan program perawat berbasis onkologi sejak 4 tahun lalu bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hasilnya kini ada sekitar 200 hingga 300 perawat yang tengah jalani pelatihan dasar onkologi, dan beberapa di antaranya berhasil dinyatakan lulus.
"Tapi itu tentu belum cukup. Sudah ada sekitar 60-an perawat spesialis onkologi lulusan UI. Mereka berasal dari berbagai rumah sakit. Sekarang sedang dipersiapkan juga pembukaan di UGM agar ada percepatan," jelas Lucia saat acara perjanjian kerjasama pembangunan ekosistem layanan onkologi komprehensif di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Menurut Lucia, kurikulum keperawatan onkologi dasar kini telah masuk dalam standar pembelajaran Kementerian Kesehatan. Rumah sakit yang memberikan layanan onkologi diwajibkan melatih perawatnya dengan keperawatan onkologi dasar. Namun, implementasi di lapangan masih bertahap.
"Kami sebagai mitra kerja pemerintah menyiapkan modelnya dulu. Harapannya pemerintah mengadopsi dan memperluasnya. Karena kami tentu tidak dalam kapasitas menentukan target nasional," tambahnya.
Sementara itu, CEO MRCCC Siloam Hospitals, dr. Edy Gunawan, mengakui bahwa bahkan rumah sakit pusat kanker pun masih menghadapi keterbatasan jumlah perawat onkologi.
"Perawat onkologi di MRCCC sudah ada, tapi jumlahnya masih terbatas, baru empat orang," ungkap dr. Edy.
Baca Juga: Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an
Ia menegaskan bahwa pelatihan onkologi tidak bisa dilakukan secara internal tanpa sertifikasi resmi karena programnya sangat terbatas dari sisi kuota dan batch.
Menurut dr. Edy, keberadaan perawat onkologi sangat menentukan standar layanan kanker, terutama dalam penanganan kemoterapi yang berisiko tinggi.
"Obat kemoterapi itu sangat sitotoksik (merusak), handling (penanganan)nya harus khusus. Perawat harus tahu penggunaan alat pelindung diri, berapa lama obat boleh terbuka di udara, bagaimana cross check warna dan potensi kontaminasi. Perawat biasa belum tentu punya kompetensi itu," jelasnya.
Ia menambahkan, tanpa standar kompetensi yang seragam, kualitas layanan kemoterapi antar rumah sakit bisa berbeda.
"Setiap rumah sakit bisa saja mengatakan punya layanan kemoterapi, tapi apakah standarnya sama? Itu yang menjadi perhatian," tegas dr. Edy.
Ini juga jadi alasan terjadinya kemitraan antara Siloam Hospitals dan Roche Indonesia untuk bekerjasama meningkatkan standar perawatan kanker payudara, salah satunya menambah jumlah perawat spesialis onkologi yang mampu menangani pasien kanker payudara.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat