Suara.com - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso mengatakan akan menindak tegas tenaga kesehatan yang mempromosikan susu formula atau sufor tanpa indikasi medis.
Kata Piprim, tenaga kesehatan atau nakes yang mempromosikan susu formula telah mengganggu program capaian ASI eksklusif di Indonesia.
Capaian ASI eksklusif bayi usia 6 bulan di Indonesia sendiri masih sebesar 69 persen. Sementara itu, salah satu tantangan capaian ASI eksklusif adalah adanya nakes yang mempromosikan sufor kepada orangtua baru.
"Ada nakes yang merekomendasikan sufor, boleh kalau ketemu nakes yang seperti itu apalagi Sp. A (Dokter Spesialis Anak) laporkan saja ke kami," ungkap Dr. Piprim dalam acara Pekan Menyusui Dunia 2022 beberapa waktu lalu.
Adapun dokter spesialis anak yang kedapatan merekomendasikan sufor tanpa indikasi medis, akan dimasukan dalam BP2A yaitu program pembinaan dari IDAI dalam bentuk sidang atau dimintai keterangan.
"Nanti akan kita BP2A nantinya, dan pembelaan anggota. Silahkan lapor jika ada dokter anak yang tanpa indikasi menganjurkan sufor," tutup Dr. Piprim.
Mengutip Hello Sehat, berikut ini beberapa kondisi medis khusus yang umumnya memperbolehkan bayi baru lahir untuk mendapat susu formula:
- Galaktosemia, merupakan kondisi metabolik, yang membuat tubuh bayi tidak dapat memproses galaktosa menjadi energi.
- Bayi yang prematur membutuhkan lebih banyak kalori, lemak, serta protein, dibandingkan bayi yang cukup bulan.
- Bayi dengan gejala dehidrasi, dan ASI ibu belum mencukupi kebutuhan bayi.
Tapi semua kondisi di atas harus sesuai diagnosis dokter, dan perlu penilaian dan pertimbangan matang.
Lantaran, jika anak sudah terbiasa dengan sufor, akan lebih sulit mengonsumsi ASI, bahkan bisa menyebabkan anak bingung puting, sehingga enggan menyusu langsung dari ibunya.
Baca Juga: Kebut Vaksinasi Booster Kedua untuk Nakes, Pemkab Bantul Targetkan 11 Agustus Rampung
Berita Terkait
Terpopuler
- Terpopuler: Waktu yang Ideal untuk Ganti HP, Rekomendasi HP untuk Jangka Panjang
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
-
Resmi Dibuka! Jadwal Penukaran Uang Baru 2026 Periode Kedua di PINTAR BI Go Id
Terkini
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi
-
Edukasi dan Inovasi Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi dan Mulut Lintas Generasi
-
Multisport, Tren Olahraga yang Menggabungkan Banyak Cabang
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan