Suara.com - Kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan. Bukan hanya dapat mengidap kelompok dewasa, kanker juga bisa diidap oleh anak dan remaja.
Meski demikian, sampai saat ini penyebab kanker pada anak masih diperdebatkan.
Banyak faktor yang disebut dapat memengaruhi risiko kanker, termasuk adanya onkogen, atau gen yang menyebabkan pembelahan sel tidak terkendali dan bertransformasi menjadi ganas.
"Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara supresor tumor (pembunuh sel) dengan onkogen, dipengaruhi faktor dari dalam (faktor genetik) maupun dari luar tubuh (lingkungan), misalnya paparan bahan kimia, radiasi, atau infeksi virus," kata Dr. Rogatianus Bagus Pratignyo, MKes, SpA(K), beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, ada beragam tantangan global dalam penanganan kanker pada anak. Termasuk di antaranya data statistik yang ia sebut tidak menggambarkan angka sebenarnya.
"Ini berkaitan dengan akses pelayanan yang masih terjadi kesejangan antara negara maju dengan negara berkembang, sehingga ini memengatuhi angka kesembuhan," tambahnya dalam acara yang diseenggarakan Yasarini Pusat dan Yayasan Onkologi Anak Indonesia itu.
Sementara itu di Indonesia, wilayah yang luas dan penduduk yang banyak menyebabkan kejadian kanker anak juga tinggi.
Menurut data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, kanker darah atau leukemia menjadi jenis kanker yang paling banyak diidap anak usia 5 tahun. Peningkatan kasus kanker anak di Indonesia juga terus meningkat.
"Masalah besarnya adalah terlambat diagnosis, masyarakat kurang sadar tentang kanker, dan akses pelayanan yang kurang. Masyarakat yang sudah terdiagnosis kanker juga kerap meninggalkan atau mengabaikan kanker," pungkasnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan tantangan lain dalam penanganan kanker pada anak di Indonesia.
Pertama, jumlah tenaga ahli yang kurang. Ia menyebut hanya ada 62 dokter konsultan hematologi onkologi anak dan itu pun tidak tersebar merata di seluruh wilayah di Indonesia.
Baca Juga: Marshanda Umumkan Kabar Bahagia soal Tumor Payudara yang Diidap
Kedua, faktor datang dari pasien misalnya status nutrisi buruk, sosial ekonomi, edukasi dan pengetahuan, transportasi dan komunikasi, infeksi.
Ketiga, faktor pelayanan kesehatan yang meliputi fasilitas diagnostik, biaya pengobatan tinggi, serta pasien yang terlalu banyak karena kasus kanker yang terus meningkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!