Suara.com - Selama masa tumbuh kembang, anak-anak harus aktif secara fisik dan tidak terpaku dengan gawai.
Bergerak aktif bisa dilakukan dengan mengajarkan anak permainan tradisional, seperti gobak sodor hingga petak umpet.
Untuk itu, Kementerian Kesehatan meminta para orangtua agar aktif mendampingi anak saat bermain gawai untuk mencegah terjadinya adiksi.
Ketua Tim Kerja Perilaku Bumil, Anak, dan Remaja Kementerian Kesehatan - Herawati mengatakan, dengan terlibat dalam permainan tradisional, hal itu akan mengalihkan anak-anak dari gawai.
"Seringlah kasih wadah agar anak lebih tertarik lagi dengan mainan tradisional," kata Herawati dalam konferensi pers Chimiland dari Lemonilo di Jakarta, Kamis (25/8/2022).
"Kita harus kerjasama antara orangtua dan anak, bagaimana mereka bisa manfaatkan gawai hanya di waktu tertentu," tambahnya.
Dari hasil berbagai penelitian, lanjutnya, anak-anak seharusnya cukup menggunakan gawai maksimal dua jam per hari. Sehingga sisa waktu lain dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas fisik.
Tetapi, Herawati mengungkapkan kalau di Indonesia memang banyak anak yang telalu lama mengonsumsi gawai, terutama saat periode sekolah online.
"Hasil survei sekarang kita, anak-anak yang menggunakan waktu gawai satu jam sampai 1,5 jam hanya 33 persen. Selebihnya pasti lebih dari itu."
Baca Juga: Psikolog Sarankan Orang Tua Tak Menyediakan Gawai Saat Waktu Makan Anak
"Itu menjadi tugas orangtua mengawasi mereka agar waktu lebih banyak digunakan untuk bermain bersama teman-temannya," ujarnya.
Sebagai upaya memperkenalkan permainan tradisional, Lemonilo wujudkan wadah bermain untuk anak di bawah usia 10 tahun di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Di sana, anak bisa merasakan bermain lomba bakian, balap karung, tarik tambang, dan lainnya yang dilakukan bersama-sama.
VP Marketing Innovation Lemonilo Andita Rasyid mengatakan, kegiatan itu juga dilakukan untuk mengenalkan anak gaya hidup sehat dengan aktif bergerak, tidak hanya duduk diam bermain gawai.
"Setelah puas bermain, anak-anak dapat menikmati camilan bermanfaat yaitu Chimi Ubi yang tersedia di lokasi."
"Kami berharap Chimiland mampu memberikan pengalaman baru tentang permainan tradisional serta gaya hidup aktif yang tak kalah seru dengan permainan teknologi masa kini," kata Andita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?