Suara.com - Kesadaran akan mental yang sehat seolah makin jadi perhatian banyak orang, terutama di kalangan anak-anak muda.
Tapi apa dan bagaimana sih mental yang sehat itu? Benarkah berarti selalu merasa bahagia tanda mental sudah sehat?
Umtuk menjawab itu, suara.com mewawancarai seorang terapis dan pakar kesehatan mental Askarina Daniswari. Pada artikel tanya ahli berikut ini akan dijelaskan tanda mental yang sehat serta cara meweujudkannya.
Seperti apa mental yang sehat?
Mental sehat itu sesimpel mental yang seimbang. Mungkin masih banyak yang belum tahu apa sih mental yang seimbang itu. Kalau kita punya keseimbangan emosi, berarti kita sangat paham akan kondisi emosi kita. Karena kita akan senantiasa marah, senang, sedih, kecewa. Ketika kita punya mental yang sehat, kita nggak takut sama hal-hal itu.
Jadi bukan berarti mental yang sehat itu kalau kita nggak boleh marah. Marah itu boleh sekali, tapi karena kita nggak menyadari marah kita sampai seberapa, itu yang harus disadari.
Misalnya, kita lagi di restoran, pesannya apa terus yang datang salah. Kita berhak untuk marah, tapi apakah kita harus marah sampai teriak-teriak di restoran? Itu kan nggak bener. Kembali lagi, menyadari kalau pelayannya juga manusia yang tidak luput dalam kesalahan. Kita pasti akan, 'Mas ini gimana sih, ini salah lho'. Tapi, nggak semua menyadari hal itu. Orang merasa kadang-kadang, 'itu kan kerjaan lo'.
Tapi ketika kita punya emosi yang seimbang, marahnya lebih tenang, itu selesai, nggak akan memendam rasa sakit hati sampai nggak mau ke restoran itu lagi.
Apakah setiap emosi apa pun memang harus dikeluarkan?
Baca Juga: 5 Manfaat Me Time yang Kamu Peroleh, Pikiran Jadi Lebih Fresh!
Harus dikeluarkan itu bener, emosi harus diekspresikan. Tapi kembali lagi bukan berarti ekspresikan emosi kita tiba-tiba, 'kata terapis gue, gue harus ekspresikan emosi. Jadi gue mau marah-marah ke semua orang di kantor', gak gitu.
Ketika kita sedih, silakanlah sedih. Ketika kecewa, silakan kecewa. Tapi harus tahu itu ada terjadi dalam tubuh kita. Penerimaan terhadap apa yang terjadi itu juga harus ada.
Apabila emosi bahagia, bolehkan diekspresikan berlebihan?
Kadang kan orang overly positif, overly negatif, emosi yang seimbang tidak seperti itu.
Misalnya, sekarang lagi rame flexing. Orang mikirnya ini kan duit-duit gue, suka-suka gue dong yang punya. Tapi ketika kembali lagi, tergantung kalau followers-nya yang suka ya pasti senang. Tapi kalau misalnya kita punya emosi yang seimbang dia akan menyadari bahwa tujuan gua untuk apa sih, untuk ngasih tahu gua berhasil supaya orang juga termotivasi atau semua orang sudah tahu kalau gua itu kaya raya.
Itu sebetulnya cara mereka untuk mengekspresikan emosi. Yang bereaksi itu yang menilai kalau itu flexing. Ketika saya bilang flexing banget sih, berarti kan saya tidak suka ketika orang itu pamer. Tapi ketika saya netral, nggak akan terusik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!