Suara.com - Tubuh anak-anak bisa jadi lebih rentan alami batuk pilek dibandingkan orang dewasa. Masyarakat Indonesia kerap masih mengaitkan gejala sakit tersebut dengan kebiasaan minum es atau air dingin. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu.
Batuk pilek sebenarnya jadi respon tubuh untuk melawan zat yang dianggap berbahaya dan mencegah agar tidak masuk ke saluran napas bawah. Penyebabnya beragam, mulai dari paparan virus, reaksi alergi, hingga pengaruh lingkungan seperti adanya polusi udara.
"Umumnya setiap orang dapat mengalami batuk dan pilek, tetapi anak-anak lebih rentan karena belum memiliki sistem kekebalan tubuh sekuat orang dewasa," jelas dokter spesialis anak dr. Cynthia Rindang Kusumaningtyas, Sp. A., dalam siaran tertulisnya, Jumat (9/6/203).
Dokter Cynthia menambahkan, anak-anak jauh lebih rentan tertular batuk dan pilek, terutama mereka yang belum genap berusia 5 tahun. Hal itu berkaitan dengan imunitas tubuh anak yang belum terbentuk secara sempurna, sehingga kekuatan tubuhnya untuk menangkal penyakit lebih rendah.
"Maka tidak heran jika anak-anak masuk dalam kelompok yang rentan terkena penyakit. Selain anak-anak berusia di bawah 5 tahun, kelompok rentan lainnya adalah orang tua berusia di atas 65 tahun, ibu hamil, pengidap obesitas, serta orang-orang yang sebelumnya memiliki penyakit kronik seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung," imbuhnya.
Selain tertular dari orang lain, anak juga bisa alami batuk dan pilek akibat paparan polusi udara. Gejalanya memang hampir sama dan biasanya terjadi secara bertahap, diawali dengan sakit tenggorokan, bersin-bersin, hingga hidung tersumbat. Batuk biasanya muncul pada hari ke-4 atau ke-5 setelah terpapar.
Beberapa gejala yang mungkin dirasakan oleh anak juga seperti, demam, pilek dengan cairan lendir di hidung, hidung mampet, bersin, batuk, napas grok-grok, hingga nyeri tenggorok.
"Mengingat batuk dan pilek adalah respon tubuh untuk melawan penyakit, sebenarnya kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gejala tersebut bukan kondisi yang nyaman, bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari," kata dokter Cynthia.
Untuk itu ia menyarankan agar istirahatkan anak selama masih alami batuk pilek dan beri makanan bergizi. Selain agar proses penyembuhan bisa lebih cepat juga supaya tidak menularkan ke anak yang lain.
Baca Juga: Peduli Gizi Anak Indonesia, Himpaudi Gelar Talkshow Pemenuhan Hak Gizi Anak Usia Dini
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan