Suara.com - Kesehatan mental seringkali dianggap remeh. Padahal, gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, latar belakang sosial, atau ekonomi. Meski sudah semakin banyak dibahas dan disosialisasikan, masih banyak stigma negatif terkait gangguan kesehatan mental. Banyak orang menganggap bahwa gangguan mental adalah aib atau kelemahan seseorang. Padahal, gangguan kesehatan mental sama seperti penyakit fisik lainnya, yaitu memerlukan penanganan medis yang tepat.
Walau tidak mengakibatkan kematian secara langsung, gangguan kesehatan mental bisa menyebabkan penderitaan berkepanjangan, baik bagi penderita, keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Imran Pambudi, M.P.H.M. mengatakan Kemenkes melakukan upaya preventif dalam penanganan kesehatan mental dengan melakukan screening dan pencegahan bunuh diri.
“Isu mental health ini menjadi krusial, data kita untuk mental health ini kan memang tidak seperti penyakit yang lain. Beda dengan penyakit jantung, penyakit yang lain kan kalau dia nggak merasa nggak sehat, dia kan bisa langsung cek. Tapi masalah kesehatan mental ini orang masih ada stigma, jadi dia tidak berani ngomong,” ucap dr. Imran di Jakarta, Jumat (11/10/2024).
Ia menuturkan ada beberapa faktor pemicu yang membuat orang mengalami gangguan kesehatan mental, di antaranya adalah finansial dan media sosial.
“Saya kira literasi untuk menyaring informasi itu menjadi penting, sehingga kita tidak stres. Kita sering membandingkan dengan orang lain, padahal kondisinya orang lain juga berbeda dan belum tentu orang lain menganggap itu keberhasilan itu belum tentu benar,” terangnya.
Dikutip dari laman Kemenkes, ada beberapa jenis gangguan kesehatan mental, yaitu gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan psikosis.
Salah satu contoh gangguan psikosis adalah skizofrenia, yang merupakan gangguan jiwa kronis, ditandai dengan terganggunya kemampuan menilai realita, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa, dan bertindak.
Penderita skizofrenia dapat mengalami penurunan fungsi dan kemampuan dalam pekerjaan, sekolah, maupun kehidupan sosialnya.
Baca Juga: Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Bom Waktu yang Mengintai Produktivitas dan Keseimbangan Hidup
Ciri-ciri orang yang mengalami skizofrenia meliputi:
- Halusinasi, seperti mendengar suara, melihat bayangan atau bentuk, mencium bau seperti darah, urin, atau feses, serta merasakan rasa yang tidak enak.
- Enggan bersosialisasi dan menarik diri dari lingkungan sosial.
- Mati rasa dan kehilangan motivasi, sehingga kurang merawat diri.
Sama halnya seperti penyakit fisik, penderita gangguan mental pun membutuhkan pertolongan, salah satunya adalah dukungan psikologis. Selain membantu mendiagnosis gangguan, pertolongan ini juga dapat membantu mengembangkan rencana perawatan, termasuk psikoterapi, konseling, atau pemberian obat-obatan.
Salah satu dukungan psikologis diberikan oleh aplikasi Wellme yang baru saja diluncurkan oleh Ibunda.id . Aplikasi ini dihadirkan dengan harapan dapat menjadi one stop solution bagi mereka yang membutuhkan layanan konseling dengan professional.
"WellMe bukan sekadar aplikasi, ini adalah awal dari langkah besar kami untuk menyediakan akses kesehatan mental yang lebih baik. Dengan WellMe by Ibunda.id, kami ingin memastikan bahwa siapa pun, kapan pun, dan dimana pun masyarakat Indonesia berada, bisa mendapatkan dukungan psikologis terbaik secara mudah dan cepat,” ujar Chief Empowerment Officer dari Ibunda.id, Arif Fajar Saputra.
Beberapa fitur dalam aplikasi Wellme by Ibunda.id yang bisa diakses, di antaranya :
1. Beragam layanan Konseling : Konseling individu, pasangan, hingga keluarga yang dapat dilakukan secara online maupun offline
2. Konseling berbayar hingga gratis
3. Pemilihan Jadwal Konseling yang beragam
4. Psikolog profesional dengan topik keahlian yang menyesuaikan dengan kebutuhan
5. Artikel seputar kesehatan mental yang dapat diakses secara gratis
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga