- The Habibie Center mengadakan media briefing di Jakarta Selatan untuk membahas eliminasi kusta yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
- Kementerian Kesehatan memasukkan skrining kusta ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai tahun ini untuk mendeteksi kasus.
- Indonesia bersama India dan Brasil termasuk tiga negara dengan beban kasus kusta tertinggi, memerlukan pendekatan komprehensif.
Suara.com - Penyakit kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Meski dapat disembuhkan dan penularannya bisa dicegah melalui deteksi serta pengobatan dini, kusta kerap terlambat ditangani akibat rendahnya kesadaran, keterbatasan skrining.
Apalagi stigma dan diskriminasi di tengah masyarakat yang sangat kuat. Dampaknya, tidak hanya dirasakan secara medis, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, relasi sosial, hingga kondisi ekonomi penyintas kusta dan keluarganya.
Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, The Habibie Center menyelenggarakan media briefing bertajuk “Menjawab Tantangan Menuju Eliminasi Kusta yang Inklusif dan Berkelanjutan di Indonesia” di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis untuk memperkuat pemahaman publik, mendorong kebijakan berbasis bukti, serta menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Media briefing ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination Mr. Yohei Sasakawa, serta Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA, IPU, ASEAN Eng.
Dalam kesempatan tersebut, The Habibie Center memaparkan temuan awal dari program “Developing an Alternative Model for Community-Based Early Detection and Combating Stigma of Leprosy in Indonesia”.
Program ini dirancang untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti yang menitikberatkan pada deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas. Ke depan, model ini diharapkan dapat direplikasi secara luas dan diintegrasikan ke dalam kebijakan publik nasional.
Program tersebut menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dan dilaksanakan secara kolaboratif bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Selain itu, The Habibie Center juga bermitra dengan organisasi internasional, yakni The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation.
Keterlibatan Mr. Yohei Sasakawa sebagai WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination memperkuat perspektif global sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam percepatan eliminasi kusta di Indonesia.
Baca Juga: Akses Perawatan Kanker Lebih Mudah dengan Fasilitas Radioterapi Modern
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam paparannya menegaskan bahwa pemerintah tengah mempercepat langkah eliminasi kusta melalui berbagai terobosan. Salah satunya adalah dengan memasukkan skrining kusta ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai diterapkan tahun ini.
“Kita tinggal ubah sedikit isinya. Tadinya belum ada skrining lepra (kusta), sekarang kita masukkan skrining lepra. Mulai tahun ini,” ujar Budi.
Ia mengungkapkan, saat ini tercatat sekitar 13.000 hingga 15.000 kasus kusta di Indonesia. Namun, angka tersebut diyakini masih berpotensi lebih besar karena adanya kasus yang belum terdeteksi.
Oleh karena itu, skrining secara masif terus didorong, termasuk dengan memberikan apresiasi kepada kepala daerah dan puskesmas yang aktif menemukan kasus kusta.
Selain skrining melalui CKG, Kementerian Kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan PCR di wilayah Indonesia Timur serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga sembuh, baik dalam durasi enam maupun dua belas bulan.
Budi pun menyampaikan optimisme bahwa Indonesia dapat mencapai target bebas kusta pada tahun 2030.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian