- Indonesia termasuk tiga negara dengan kasus kusta terbanyak; diskriminasi penderita dianggap masalah serius.
- Yohei Sasakawa menekankan bahwa mengatasi stigma dan misinformasi sama pentingnya dengan pengobatan medis.
- Menkes Budi menegaskan kusta tidak menular setelah pengobatan antibiotik kurang dari seminggu; perlu kolaborasi.
Suara.com - Di tengah kemajuan zaman, diskriminasi terhadap penderita kusta ternyata masih menjadi borok yang lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri. Ironisnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan penderita kusta terbanyak di dunia.
Kenyataan ini diungkapkan oleh Duta Besar Kehormatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pemberantasan Kusta, Yohei Sasakawa.
Pria berusia 87 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk isu ini, berkomitmen penuh melalui Sasakawa Health Foundation (SHF) untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga memerangi stigma yang melumpuhkan para penderitanya.
Menurut Sasakawa, perang melawan kusta tidak akan pernah berhasil jika hanya mengandalkan pendekatan medis.
Pertarungan sesungguhnya adalah melawan misinformasi dan anggapan kuno bahwa kusta adalah penyakit kutukan yang harus dijauhi.
Ia menekankan bahwa simpati dan penerimaan sosial adalah obat yang sama pentingnya dengan antibiotik.
"Yang terpenting adalah mengobati dan membebaskan orang-orang ini dari diskriminasi dan memberi mereka simpati. Saya juga berharap kita bersama-sama dalam melakukan pendekatan demi menghilangkan kusta dengan baik," kata Yohei Sasakawa dalam acara Media Briefing di Wisma Habibie-Ainun, Kuningan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Perhatian mendalam Sasakawa terhadap Indonesia sangat beralasan. Tingginya angka penderita diperparah oleh minimnya edukasi di tengah masyarakat.
Banyak yang tidak tahu bahwa kusta bisa disembuhkan total dan bukan penyakit yang mudah menular. Akibatnya, penderita tidak hanya menanggung sakit fisik, tetapi juga beban psikologis akibat dikucilkan.
Baca Juga: Bukan Penyakit Keturunan atau Kutukan, Ini Fakta Tentang Kusta
"Sebagaimana kita tahu kusta memiliki tanda-tanda medis dan juga mendapat masalah stigma karena banyak diskomunikasi yang harus diatasi," ujar Sasakawa.
Seruan ini disambut baik oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Menkes Budi secara lugas menyebut bahwa tindakan mengisolasi atau bahkan membuang anggota keluarga yang terkena kusta adalah buah dari disinformasi yang tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali. Ia pun membeberkan fakta medis yang seharusnya diketahui seluruh masyarakat.
"Jadi kalau teman teman itu mengisolasikan membuang saudaranya kalau kena lepra itu disinformasi itu. Gak ada scientifi evidencenya. Dan scinetfic evidencenya begitu kita kena bakteri lepra, kita meminum itu antibiotik kurang dari seminggu dia berhenti menular," jelas Menkes Budi.
Gerakan bersama untuk memerangi kusta dan stigmanya juga mendapat dukungan dari kalangan masyarakat sipil.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Sasakawa Foundation dan Kemenkes RI.
Menurutnya, isu ini bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga cerminan kualitas demokrasi dan hak asasi manusia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
Pilihan
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
Terkini
-
Kisah Memilukan Zahra, Cucu Ali Khamenei Berusia 14 Bulan Ikut Tewas dalam Serangan Udara
-
Kapolres Sukabumi di DPR: Ibu Tiri Sempat Tak Mengaku Aniaya Nizam Syafei
-
Iran Tegaskan Tak Akan Bernegosiasi dengan AS
-
Polri Petakan Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 dalam 2 Gelombang, Ini Detailnya
-
Kesaksian Didik Suhardi: Dicopot Nadiem Makarim dari Sekjen Tanpa Catatan Kesalahan
-
Trump Targetkan Perang Iran Selesai dalam 4 Minggu, Gunakan Model Venezuela Gulingkan Rezim
-
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace, Ahmad Muzani Bocorkan Sikap Prabowo
-
Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
-
Anthropic Tolak Proyek AI Militer AS hingga Bikin Trump Murka, OpenAI Langsung Ambil Alih
-
Fakta Janggal Kematian Nizam Syafei di Sukabumi, Ayah Bahas Pemakaman Saat Anak Masih Kritis